SEJARAH PAROKI SANTO CORNELIUS MADIUN

SEJARAH
PAROKI SANTO CORNELIUS
MADIUN

AWAL MULA

Franciscus Xaverius

Misi Katolik di Nusantara berawal ketika Franciscus Xaverius menginjakkan kakinya di Bumi Ambon pada bulan Mei 1546. Itulah awal karya misi di Bumi Nusantara. Tetapi perkembangan misi tidak berjalan mulus, karena mendapatkan tekanan dari VOC yang pada waktu itu berkuasa di Nusantara. Banyak imam-imam Katolik yang pada waktu itu berkebangsaan Portugis diusir dari Nusantara. Kuasa Tuhan tidaklah berhenti, ketika VOC bangkrut tahun 1799 misi Katolik mulai berjalan lagi. Kebebasan beragama mulai diakui oleh pemerintah Belanda dan itu membawa dampak yang baik di tanah misi. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan Gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda di Batavia.

Selanjutnya pada tanggal 4 April 1808, dua orang Iman dari Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor Jacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr. Dan yang menjadi Prefek Apostolik pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr. Karya misi terus berlanjut dan menyebar sampai ke daerah Yogyakarta. Pada tahun 1825-1830 seorang Pastor bernama Scholtes mengadakan perjalanan inspeksi sampai ke Sulawesi dan Maluku kemudian melaporkan hasil penyelidikannya kepada Paus. Berdasarkan laporan itu Paus menganggap sudah tiba waktunya untuk membantu dan meningkatkan Misi Katolik di Indonesia menjadi Vicariat (perwakilan) pada tanggal 29 Maret 1841. Lalu Mgr. Jacob Croaff, Pr dikirim sebagai Vicariatus Apostolik yang pertama. Pada tahun 1848 dia digantikan oleh Mgr.Petrus Maria Francken, SJ. Di bawah pimpinannya, misi ini mendapat kemajuan. Dari pulau-pulau yang jauh letaknya berdatangan permintaan dari umat Katolik yang hidupnya terpencil. Pada tanggal 2 Agustus 1859, berdasarkan surat keputusan pemerintah Belanda berdirilah stasi baru di Ambarawa, yang meliputi wilayah Salatiga, Banyubiru, Surakarta dan Madiun. Wilayah Madiun meliputi Pacitan, Ngawi, Ponorogo dan Magetan. Itulah awal dari perjalanan Katolik di Madiun.
 
TAPAK-TAPAK KATOLIK DI MADIUN

 
Pastor Cornelis Stiphout, SJ

Pada tahun 1897 Madiun secara resmi berubah menjadi Stasi dan tepatnya tanggal 28 Juli 1897 Pastor Cornelis Stiphout, SJ yang sebelumnya menjabat sebagai Pastor Pembantu di Magelang dipindah ke Madiun dan menjadi Pastor Stasi Madiun yang pertama. Wilayah kerja Stasi Madiun meliputi Karesidenan Madiun dan Kediri, yang meliputi daerah Kertosono, Nganjuk, Tulungagung dan Bilitar. Pada tahun itu pula Pastoran mulai dibangun, dan berdiri megah sampai saat ini. Barulah pada tanggal 12 Maret 1899 Gereja Katolik di Madiun dibangun, yang letaknya di sebelah barat Pastoran yang sekarang di pakai sebagai Aula Bernardus. Dari surat Pastor Cornelius Stiphout, SJ pada tanggal 26 Maret 1899 dipermandikan 27 anak, dan menambah jumlah umat Katolik di Madiun, yang pada waktu itu hanya berjumlah 400 orang.

 

 

 

Pastoran 1897


Akhir Juni 1904 Pastor Stasi di Madiun adalah Romo BG. Schweitz, SJ. Dan tahun itu adalah awal dimana Misa diiringi oleh alat musik berupa Harmonium. Suster-suster Ursulin mulai berkarya di Madiun pada tahun 1908 yaitu ketika beberapa suster dari Surabaya membuka Sekolah Dasar Eropa di Madiun. dan pada tahun 1914 diserai rumah Yatim Piatu untuk Puteri yang sejak tahun 1908 dikelola oleh Romo BG. Schweitz, SJ. Dan Karyanya terus berlanjut sampai pada awal Juli 1925 mulai membangun sebuah Panti Asuhan, Sekolah SD dan TK Eropa, Sekolah SD Jawa (HIS) dan TK Jawa di sekitar Gereja, sampai sekarang.


Het Madionsche Koor 1906


Tanggal 15 Februari 1908 daerah kerja imam-imam Lazaris di Prefektur Apostolik Surabaya dipisahkan dari Vikariat Apostolik Batavia. Pada tahun 1923 Kongregasi penyebaran imam menyerahkan sebagian daerah Misi Jawa Timur ke Misi Lasaris, yang berpusat di Surabaya.. Pada tahun 1928 daerah Misi Surabaya di jadikan Prefektur Apostolik Surabaya, dan membawahi beberapa stasi yaitu Mojokerto, Kediri, Blitar, Cepu dan Madiun, dan imam-imam Lazaris (CM) mengambil alih pengembalaan dari imam-imam Jesuit di wilayah Karesidenan Madiun. Pastor Lasaris pertama yang bekerja di Madiun adalah Romo Martinus Hermanus Kock, CM, pada tanggal 2 Januari 1928.

Pada tahun 1929 perkumpulan Wanita Santa Melania membuka SD Santa Melania di Jalan Borobudur yang dikhususkan untuk siswa putri. Romo Piet Van Goethem, CM selanjutnya membuka SD di Kepatihan, Pilangbangu, Tempursari, Klegen dan Sukosari. Pada tahun 1934 para Bruder Santo Aloysius datang di Madiun dan menyelenggarakan ELS di Jalan Wilis No. 02 (Sekarang Jl. A Yani), dan HIS pertama terletak di tempat dimana Gereja Santo Cornelius sekarang berdiri. Selanjutnya HIS pindah ke Wilhelmina Straat 70 (Jalan Diponegoro), sekarang di kenal dengan SDK Santo Yusuf. Ny. A.V Rhijn ditugaskan untuk membuka SD Santa Maria di Jalan Klenteng 75 (Jalan Cokroaminoto), khusus untuk putri kebangsaan Tionghoa. Sekarang sekolah ini di bawah pengelolaan Yayasan Yohanes Gabriel sejak tahun 1947.

Umat Katolik di Madiun semakin bertambah, beberapa organisasi rohani seperti Wanita Katolik, Katolik Wandowo, Pangrukti Loyo, Kepandua, Palupi Darma membutuhkan sebuah tempat untuk berkumpul, maka pada tahun 1934 dibangun Gedung Katholiek Sociale Bond yang berfungsi sebagai tempat untuk pertemuan. Gedung tersebut kini menjadi Balai Paroki. Gereja yang di bangun pada tahun 1899 sudah tidak muat lagi menampung umat, maka dimulailah pembangunan Gereja yang baru pada tahun 1937 yang bisa menampung 600 umat. Tetapi sebelumnya Gedung yang sekarang dipakai sebagai Balai Paroki, pernah dijadikan Gedung Gereja. Kemudian pada tanggal 19 Juni 1938 diadakan pemberkatan Gereja baru oleh Mgr. Th. Backere, CM, Prefek Apostolik Surabaya, dengan nama pelindung Santo Cornelius, Martir Gereja yang pertama.

Pada tanggal 21 Juli 1940, Ign. Josef Soedjono Dwidjosoesastro, CM putra dari Madiun di tahbiskan menjadi Imam dan baru kembali tahun 1946. Cerita berawal sekitar tahun 1923 atas anjuran Seorang Kepala Sekolah, seorang anak lulusan SD Jalan Jawa 16 disarankan untuk masuk Sekolah Guru di Muntilan. Perkembangan umat Katolik bertambah banyak, sehingga mengharuskan dibangun sebuah Kapel di Magetan pada tahun 1941, yang letaknya di Jalan Suprapto No 1 Magetan.


MASA PERANG DUNIA KE II

 


Gereja Santo Cornelius

Langkah-langkah kehidupan Katolik di Bumi Nusantara kembali terhalang, setelah dulu VOC kini pemerintah Penjajah Jepang yang berkuasa menghambat Roda kehidupan Katolik. Semua tokoh-tokoh Katolik, Imam, Bruder dan Suster di Penjara. Fasilitas gereja di ambil alih untuk kepentingan Tentara Jepang. Gereja pada waktu itu di jadikan Kantor Polisi Jepang, dan Gereja harus pindah ke salah satu Gudang di Jalan Biliton no. 24 (sekarang Gedung SMA Negri 2). Pastoran harus pindah ke Jalan Pahlawan (sekarang Gedung Bank Mandiri), selanjutnya pindah lagi ke sudut Jalan A Yani (sekarang rumah Dinas Komandan Korem). Para Bruder pada waktu itu meninggalkan Madiun. Begitu juga Susteran juga harus dikosongkan. Para suster pindah ke Rumah Sakit darurat di Josenan, hanya semalam, selanjutnya pindah ke Jalan Klenteng no 75 dan di barak-barak belakang Rumah Sakit Umum, Jalan Bali. Walaupun para Romo dibawa ke kamp tahanan di Bandung, dan para Suster dibawa ke kamp di Semarang, tetapi roda kehidupan Katolik di Madiun tidak berhenti total. Di Gereja darurat Jalan Biliton, setiap Minggu selalu diadakan Ibadat dan selalu penuh diikuti umat walaupun tanpa Imam. Sebulan sekali beberapa Romo secara bergantian mengunjungi umat di Madiun, di antaranya adalah Rm. Ag. Dwidjosoesanto, Pr, Rm. Yoh, Padmoseputro, Pr. Rm. Danuwidjojo, Pr. Kadang di dampingi oleh calon Iman asal Madiun yaitu R. Soewidji yang berasal dari Jalan Wuni 2. Dengan begitu roda kehidupan Katolik di Madiun tidak berhenti total, pelajaran Agama untuk pelajar masih berjalan, Baptisan, Komuni Pertama dan Perkawinan masih berjalan. Perjuangan dengan tulus dilakukan oleh tokoh-tokoh dan umat Katolik di Madiun dalam suasana tekanan Penguasa saat itu. Jasa perjuangan Mere Gabriel, OSU yang dibantu oleh seorang pemudi yang bernama Olly sangatlah berharga. Melalui kasihnya mereka berjalan kaki untuk mengunjungi beberapa umat yang membutuhkan pertolongannya.

Walaupun pada waktu itu sekolah-sekolah Katolik ditutup tetapi beberapa guru memberanikan diri membuka sekolah yang di beri nama SD Bruderan di Jalan H.A Salim 19 (sekarang SMP Negeri 2). Dari sekolah itu tercatat panggilan Imamat yaitu C. Soebagyo Reksosubroto dari Winongo, dua tercatat panggilan sebagai suster Ursulin. Pada masa itu pula tercatat beberapa panggilan diantaranya adalah A. Siswandi dari SD Negeri Jalan Jawa 16, Karyosoemarto dari Winongo, dan RM. J Soetiarso (J. Tondowidjojo) dari Ngawi.

Belum lama gereja menempati Gedung di Jalan Biliton diharuskan pindah ke Gereja Kristen di Jalan Jawa, sedangkan umat Kristen di Jalan Jawa harus bergabung di gereja Kristen Jawi di Jalan Panglima Sudirman. Untuk menghindari kesulitan maka gereja pindah ke Jalan Jawa 52 tempat kediaman suster Ursulin, yang sekarang Komplek Gereja Kristen GPIB. Kejadian itu tidaklah berlangsung lama, setelah Jepang kalah perang, pengurus Gereja di panggil oleh Penguasa Jepang dan secara resmi semua aset dan bangunan gedung-gedung Gereja, Pastoran, Balai Paroki, Susteran dan Bruderan di kembalikan. Pada waktu itu gedung susteran masih digunakan TRI (Tentara Republik Indonesia) dan susteran pindah ke gedung Bruderan di Jalan Wilis 2 (Jl. A. Yani).


MASA KEMERDEKAAN

Sepekan setelah Indonesia Merdeka, Rm. Piet Van Goethem, CM kembali dari Kamp Tahan di Bandung, selanjutnya di susul oleh Rm. G. Smets, CM. Karya kerasulan dimulai lagi, Rm. Piet Van Goethem, CM menugaskan beberapa guru untuk membuka kembali sekolah mulai dari TK, SD dan SMP di Komplek Susteran yang tidak ditempati oleh TRI. Gereja mulai ditata kembali, domba-domba mulai hidup dengan tenteram di samping gembalanya. Pada tanggal 3 Oktober 1949 Romo Ign. Dwidjojosoesastra, CM menjadi Romo Kepala di Madiun dan dibantu oleh Romo W. Janssen, CM, pada tanggal 18 Pebruari 1949. Pada tanggal 10 Mei 1950 Romo H. Windrich, Pr menjadi Romo pembantu di Madiun sampai tanggal 10 Mei 1954. Pada tanggal 13 Desember 1950 Romo J.H. Raets, CM memperkuat tanaga imam di Madiun sampai tanggal 10 Mei 1954. Pada masa ini, tepatnya pada tanggal 10 Mei 1953, istilah “PAROKI” baru diperkenalkan oleh Romo J..H. Raets, CM.


Ursilin 1933


Berdasarkan usulan dan perjuangan dari para tokoh-tokoh Katolik pada waktu itu, maka pada tanggal 15 September 1950 dibuka Sekolah Guru Bagian Atas (SGA). Dan Sejak tahun 1955 SGA berubah menjadi SGA Santo Bernardus di bawah Yayasan Biarawati Ursulin, dan pada tanggal 1 April 1958 diserahkan ke Yayasan Taruna Bakti. Pada tanggal 1 Mei 1952 Romo H.J Passchier, CM dan suster perawat J.M Smit membuka sebuah Poliklinik di suatu ruang kelas di SD Santa Maria. Poliklinik semakin berkembang, kemudian didirikan sebuah Yayasan untuk memgurusinya yaitu Yayasan Panti Bagia. Yayasan ini mempunyai rumah bersalin di Jalan Biliton 15. Poliklinik yang ada di SD Santa Maria dipindah di Jalan Klenteng 111, dibangun juga Poliklinik Imaculata di daerah Selo Kanigoro.

Dalam masa kemerdekaan, karya Katolik juga ditunjukkan lewat keikutsertaan Warga Katolik dalam membangun Negeri ini, tercatat dalam sejarah pada tahun 1950 s.d 1956 wakil-wakil dari Partai Katolik duduk di Dewan Perwakilan Daerah, diantaranya adalah R. Marsidi, Tjiptosoehardjo, Djoko Hardjosoemarto dan Stans Soeharto. Selangkah demi selangkah kehidupan Katolik di Madiun mulai berkembang pesat, dari tahun ke tahun karya-karya Katolik mulai bertambah. Pada 1952 Persatuan Guru Katolik berdiri di Madiun, dan dipimpin oleh Stans Soeharto. Pada tahun 1953 Legio Marie didirikan oleh Romo H.J. Passchier, CM. Pada tahun 1955 Asrama Don Bosco telah berdiri dan di bawah pengawasan Romo A. Van Rijnsoever, CM kemudian dilanjutkan oleh Romo M. Van Driel, CM.

Pada tahun 1959, B I Ilmu Mendidik yang didirikan di Kediri pindah Ke Madiun. Itulah awal dari didirikan Sekolah Katolik tingkat Akademis di Madiun. Pada tahun itu dirintis pendidikan Katekis yang dirangkai dengan Ilmu Pendidikan yang dibina oleh Romo P. Janssen, CM. Kemudian pada tanggal 1 September 1959 didirikan sebuah Akademi di Madiun oleh Romo P. Janssen, CM, yang bernama Akademi Kateketik Indonesia di belakang Pastoran Jalan A. Yani 03 Madiun. Lembaga ini berkembang dan sekarang menjadi STKIP Widya Yuwana.

Pada tanggal 16 September 1960 Mgr. Alibrandi berkunjung ke Madiun bersama tiga biarawati Missionaris Claris, yaitu Madre Guadalupe Alvarado, Madre Virginia Celia del Divino Verbo dan Madre Maria Martha. Selanjutnya Yayasan Panti Bagia disererahkan kepada Missionaris Claris. Pada bulan itu juga, tepatnya tanggal 20 September 1960, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Widya Mandala didirikan di Madiun, yang pertama kali bertempat di Jalan A. Yani 1 & 7 Madiun. Selanjutnya pada tanggal 31 Desember 1991 berubah menjadi Universitas Widya Mandala yang sekarang bertempat di Jalan Manggis 15-17 Madiun.


Rm. P. Janssen, CM

 

Pada tahun 1961 Rm. P. Janssen, CM mendirikan Stasi di Caruban.

Pada tanggal 14 April 1964, SMP Persiapan Negeri di Jenangan diserahkan secara resmi kepada Misi, dan kemudian Kasno berserta teman-temannya ditugaskan sebagai tenaga Pengajar. Beliau adalah salah satu katekis pertama yang dibimbing oleh Rm. P. Janssen, CM. Untuk melengkapi karya pelayanan kesehatan, pada tahun 1964 didirikan SSV (Serikat Sosial Vincentius) di Madiun. Karya Kesehatan ini merupakan kelanjutan dari apa yang dirintis oleh Poliklinik Santa Melania pada jaman Romo C. Klemers, CM.

Pebruari 1965, Romo A.J Wignyapranata, CM ditunjuk sebagai Romo Pembantu di Madiun. Pada masa jabatannya beliau membuka Stasi Karangrejo. Kemudian pada tanggal 18 Pebruari 1966, stasi Mojomanis dibuka oleh V. Soeronto (mbah Kung) dan Suyitno dari ALMA.

Romo Carlo del Gobbo, CM, pada tanggal 1 Oktober 1967 menjadi Romo Kepala di Madiun, dan sejak tahun itu Pastor-pastor Itali mulai memegang daerah Karesidenan Madiun. Dan sejak itu pula daerah Madiun masuk menjadi Provinsi Roma, Italia. Penyerahan Paroki dilaksanakan dalam Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Mgr. J.A.M. Klooster, CM. Pada tanggal 20 Mei 1967, V. Soeronto (mbah Kung) bersama Seorang Lurah, mendirikan Stasi Kwadungan, yang kemudian pada masa Jabatan Romo Sebastian Fornasari, CM, stasi ini dijadikan satu dengan Stasi Mojomanis.

Bulan Pebruari 1968, Romo Carlo del Gobbo, CM mendirikan sebuah Pemancar Radio Amatir. Stasiun Radio pertama kali menggunakan salah satu kamar di Pastoran (Sekarang kantor Paroki). Lalu pada bulan Oktober 1968 pemancar tersebut pindah ke Jalan Klenteng 111. Nama Pemancar Radio tersebut adalah Radio Gabriel.


MASA TAHUN 70-An

Pada tahun 1970, Paroki Santo Cornelius Madiun mendapat seorang Katekis yaitu A.H Hutahaean BA, kemudian diganti oleh Pieter Noerawar, BA yang dibantu oleh F. Kamarri, BA. Kemudia pada tahun 1977 diganti oleh A.J. Ngadiono, BA. Pada tanggal 3 Oktober 1970, Kapel Jurug Ponorogo berdiri. Pada tahun ini pula Majalah Charitas terbit, dengan staf redaksi Soehadmadji, E. Jam Rewv, Paul Permadi, Felix Poerwono dan St. Hariyono. Pada tahun 1971, Bruder Michael, Bruder Vianney dan Bruder Dimas berkarya membantu Paroki dan majalah Charitas. Selain itu ada juga Sinulingga, SH, Drs. Yusuf Gunawan dan dr. H. Probokoesoemo tidak pernah absen dalam membantu umat dan majalah Charitas.

Wilayah Paroki Santo Cornelius Madiun pernah dibagi menjadi dua bagian yaitu Utara dan Selatan pada tahun 1972, tetapi kemudian dipersatukan kembali. Pada masa ini dibentuk Panitia pembuatan Gereja OIKUMENE di Maospati. Magetan yang mula-mula adalah wilayah Stasi dari Paroki Santo Cornelius, pada tanggal 25 Januari 1972 secara resmi membentuk Paroki baru. Dengan demikian perkembangan umat Katolik di Wilayah Madiun boleh dikatakan cepat.


Pada tahun 1974. LAKRISMA dibentuk dan diketuai oleh Suster Alice OSU. Pada tangal 20 Pebruari 1975, DRS. J Wardijo diagkat oleh Keuskupan Surabaya menjadi Diakon Awam dan ditahbiskan oleh Mgr. J. Klooster, CM di Surabaya. Akhir tahun 1975 gedung Gereja dipugar untuk kedua kalinya dan dibangun pula Gedung Remaja di Komplek SMEA Santo Bonaventura Jalan P. Sudirman 83B Madiun. Gedung tersebut digunakan untuk kegiatan Muda-mudi Katolik yang disponsori oleh Katholische Jungschar Osstereich. Setelah terbit selama 7 tahun, pada akhir tahun 1977 Majalah Charitas mengakhiri karyanya.

Pada tanggal 6 Agustus 1978 diadakan Misa pertama di Gereja Santa Maria Caruban yang pada waktu itu belum selesai pembangunannya. Pada tanggal 7 Agustus 1978 dilangsungkan Musa Mulia Requiem untuk arwah Paus Paulus VI yang wafat pada tanggal 6 Agustus 1978 dini hari. Pada tanggal 15 Agustus 1978 buku Doa dan Nyanyian “PUJIAN TUHAN” terbit.

 


PERKEMBANGAN DEWASA INI

Dalam era ini, perkembangan umat Katolik di Paroki Santo Cornelius Madiun terus meningkat, namun tidak banyak dokumen yang mencatatnya.

Pada tanggal 27 September 1982 diadakan perayaan pesta perak imamat delapan pastor CM yang sekaligus juga perayaan hari jadi Paroki Santo Cornelius. Acara ini diselenggarakan di halaman SMP Santo Yusuf Madiun.

Pada tahun 1981 dimulailah pemugaran kapel Santa Maria Caruban dan pada tanggal 31 Oktober 1982, Gereja Stasi Santa Maria Caruban ini diberkati dan diresmikan.

Pada Bulan Desember 1988 dimulailah pembangunan Gereja Stasi di Jenangan dan pada tanggal 2 April 1989, Gereja ini diberkati oleh Uskup Surabaya, Mgr Dibyokaryono dan menggunakan nama pelindung Santo Vinsensius.

 

 

Gereja Mater Dei

 


Pada tahun 1989, Paroki Santo Cornelius mengembangkan pembinaan umat paroki dengan membagi daerah paroki di Kota Madiun menjadi 3 wilayah, yaitu Wilayah Timur, Wilayah Tengah dan Wilayah Barat. Adapun wilayah timur terdiri dari Lingkungan Mojorejo, Lingkungan Klegen, Lingkungan Rejomulyo, Lingkungan Kanigoro dan Lingkungan Santo Yusuf Klegen. Pertumbuhan umat di wilayah timur ini berkembang dengan pesat seiring dibukanya beberapa perumahan di wilayah itu. Maka sejak awal 1980-an, saat Pastor Paroki dijabat oleh Romo Louis Pandu, CM., mulai merencanakan pembangunan gedung gereja yang baru. Sebagai persiapan untuk itu, maka di wilayah timur mulai menyelenggarakan kegiatan peribadatan tersendiri, khusus untuk perayaan Natal dan Paskah. Peribadatan pertama diselenggarakan pada peringatan Paskah 1989 yang dipersembahkan oleh Romo Wignyapranoto, CM. Acara ini diselenggarakan di halaman rumah bekas poliklinik Panti Bagija di ujung timur Jalan Slamet Riyadi. Yang kemudian tempat tersebut dikenal dengan Rumah Ibadat Timur. Pada Bulan Juli 1991 mulai dibangun gedung gereja baru dan pada tanggal 6 April 1992 gedung gereja tersebut diresmikan oleh Walikota Madiun, Drs. Masdra M. Yasin dan diberkati oleh Uskup Surabaya, Mgr Dibyakaryono. Adapun gedung gereja baru tersebut diberi nama MATER DEI. Seiring berjalannya waktu maka nama wilayah timur diganti menjadi wilayah Mater Dei, yang terkoordinasi dalam wilayah V dan wilayah VI di dalam Paroki Santo Cornelius. Bulan Mei 1999, status wilayah Mater Dei ditingkatkan menjadi Stasi Quasi Mater Dei. Pada tanggal 24 Desember 1999, berdasarkan Surat Keputusan Uskup Surabaya no: 997/G.113/XII/99 ditetapkan berdirinya Paroki Mater Dei Madiun, yang merupakan pemekaran dari Paroki Santo Cornelius Madiun.

Perkembangan umat di wilayah Kabupaten Madiun, mengalami peningkatan, pada tahun 1993, di Saradan mulai diadakan rumah ibadat, yang berfungsi sebagai pusat kegiatan umat. Adapun rumah ibadat ini menggunakan rumah keluarga Ibu Prihatin Partosuwito yang kemudian rumah tersebut digunakan sebagai rumah ibadat secara permanen bagi umat di Saradan. Seiring perkembangan waktu, kondisi rumah ibadat ini cukup memprihatinkan, maka pada tahun 2007 ini diadakan pemugaran rumah ibadat tersebut. Pada tanggal 22 April 2007 dilakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulai pemugaran rumah ibadat tersebut.

Tanggal 27 November 2005 terbit edisi perdana “Menu Cornelius”. Adapun tujuan terbitnya newsletter ini adalah sebagai sarana komunikasi pastoral umat Paroki Santo Cornelius Madiun.

 

 

Gua Maria Santo Cornelius Madiun


Tanggal 27 November 2006, Gua Maria yang berada di Halaman selatan gereja diresmikan dan diberkati oleh Administrator Keuskupan Surabaya, Romo Yulius Haryanto, CM.

3
Your rating: None Average: 3 (3 votes)

Basilika Kerahiman Ilahi di Krakow-Lagiewniki, yang sempat dikonsekrasikan oleh Beato JP II. Di Lagiewniki St. Faustina meninggal dunia.

 

Catholic Church of Our Lady Queen of the World, Sungai Durian, Diocese of Sintang, West Borneo
(FB : catholic church)

Mari kita mendukung Paus Fransiskus dengan banyak berdoa Rosari, sebab saat ini Sri Paus tengah menanggung Salib karena banyak orang hendak menyudutkan beliau dengan menulis hal-hal yang menyesatkan dan ingin merusak kesatuan umat beriman di bawah kepemimpinan Bapa Suci, Wakil Kristus di dunia. Semoga Tuhan mengasihani Paus Fransiskus dan Roh Kudus melindungi seluruh umat beriman.
(FB : Sherley H. Mandelli )

 


 

Mgr Subianto tahbiskan gereja tujuh gunungan atap yang pernah bermasalah. Karena rahmat Kristus, cinta kasih Allah, berkat karunia Roh Kudus, dan bantuan umat beriman di tempat lain, umat beriman Cikampek membangun gereja, bagaikan di padang gurun.
(courtesy :  " penakatolik com")

------------------------------------------------

Kita sedang menggalang dana untuk pembagunan rumah HIV St. Clare Hospice, Lamsai, Lamluka – Thailand Romo Alf Gorky OFM
bagi rekan2 yg ingin membantu ada rekening di bawah ini dengan berita " Thailand "
untuk menghindari penipuan yang di lakukan oleh admin fb gua maria indonesia bisa di cek langsung ke Romo nya bisa dengan emial , whats Up atau "line"
terima kasih