Perlu Pedoman Gereja Apartemen

Perlu Pedoman Gereja Apartemen

Umat Katolik yang tinggal di apartemen juga perlu penggembalaan agar kehidupan menggereja mereka makin berkembang. Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) perlu memikirkan pedoman penataan dan pengelolaan gereja apartemen.

Demikian Kepala Paroki Maria Bunda Karmel (MBK) Tomang, Jakarta Barat, Pastor Heribertus Supriyadi OCarm, saat diwawancarai HIDUP di Paroki MBK, Senin, 18/7, terkait Stasi Fransiskus Asisi.

”Dengan adanya stasi, umat terdorong untuk memikirkan Gereja. Tidak hanya sekadar pergi ikut Misa saja. Mereka akan mulai memikirkan pengembangan Gereja setempat, memikirkan pendataan umat, mengatur tugas-tugas ibadat dan Misa,” tutur Pastor Heribertus Supriyadi ketika disinggung tentang alasan mendirikan stasi yang terletak di Apartemen Taman Anggrek ini.

Menurutnya, umat akan kenal satu sama lain dan terkoordinasi dengan baik. Apa yang diharapkan Pastor Heribertus Supriyadi terwujud saat gerak umat mulai terlihat. Ia mengatakan, ”Kelompok muda Karismatik di stasi ini cukup aktif. Bahkan, mereka sempat dipercaya menjadi pendamping weekend kaum muda Paroki MBK.”

Pendataan umat juga cukup mudah. ”Ada koordinator umat di setiap tower dalam apartemen sehingga mereka mudah mengenali umat-umat baru yang tinggal di tempat itu,” ungkapnya.

Tentang ketersediaan tempat kegiatan, Pastor Heribertus Supriyadi mengatakan, hal ini bisa menjadi hambatan tersendiri. ”Sejauh kita punya hubungan baik dan sanggup membayar sewa ruangan dalam apartemen, tentu tempat tidak akan jadi masalah. Namun, bagaimana dengan tahun-tahun mendatang,” tukasnya.

Ia berpendapat, akses yang dapat memudahkan ketersediaan tempat hendaknya terus-menerus dipikirkan. Selain itu, KAJ perlu memikirkan pedoman Gereja apartemen. Hal ini diperlukan agar model penggembalaan seperti ini makin tertata, baik dari segi pengelolaannya dan administrasinya.

Sementara Kepala Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading Pastor Antonius Gunardi Prayitna MSF mengatakan, kebutuhan umat untuk berkumpul dengan sesama yang seiman dan berdoa bersama merupakan salah satu pendorong munculnya gerakan umat Katolik di apartemen. ”Ini timbul dari kebiasaan mereka naik turun lift bersama dan saling bertegur sapa di taman apartemen,” jelasnya.

Di Paroki Kelapa Gading terdapat banyak apartemen. Pastor Anton juga melakukan langkah baru. ”Untuk memudahkan penggembalaan dan menanggapi perkembangan iman umat, pada pesta perak Paroki Kelapa Gading nanti, apartemen-apartemen seperti di dekat Mall of Indonesia (MOI), Gading Resort Residence, The Villas, dan City Home akan menjadi wilayah sendiri yaitu Wilayah Rafael,” tuturnya.

Kesulitannya, menurut Pastor Anton, ada banyak apartemen yang sudah ada pemiliknya, tetapi tidak ada penghuninya. Ada juga umat yang tidak mau didata. ”Diminta menyumbang dana, mereka mau. Namun, jika untuk didata mereka tidak mau,” jelas Pastor Anton. Selama ini, ia merasa tidak perlu ada bentuk pastoral khusus untuk mereka. Pastor asli Semarang ini mengatakan, ”Kami memakai bentuk pastoral biasa seperti kebanyakan umat pada umumnya.”

 

SUMBER : R.B. Yoga Kuswandono - hidupkatolik.com

[HIDUP/A. Nendro Saputro & R.B. Yoga Kuswandono]
Heribertus Supriyadi OCarm & Antonius Gunardi Prayitna MSF



0
Your rating: None

Comments

Awalnya, tidak lebih dari 50

Awalnya, tidak lebih dari 50 orang Katolik di Apartemen Taman Anggrek. Mereka berkenalan dan berkumpul untuk berdoa. Jumlah umat semakin banyak hingga akhirnya ditetapkan sebagai stasi.

[HIDUP/R.B. Yoga Kuswandono]
Margaretha Xaverina & dr A.V. Soenardi Krisnandoko


Demikian diungkapkan Ketua Stasi Fransiskus Asisi, dr A.V. Soenardi Krisnandoko, ketika menemui HIDUP di Apartemen Taman Anggrek, bersama pengurus Seksi Sosial Stasi Margaretha Xaverina.

Dokter Soenardi menuturkan, “Mula-mula, kami saling berkenalan saat bertemu di taman atau kegiatan bersama di apartemen.” Dari perkenalan itulah, akhirnya mereka menjalin komunikasi dan bersepakat melakukan doa bersama di rumah salah satu warga. “Kegiatan ini kami lakukan sebulan sekali,” jelas Soenardi.

Jumlah penghuni apartemen yang mengikuti kegiatan doa bersama ini bertambah, karena informasi kegiatan ini menyebar dari mulut ke mulut. Mereka pun akhirnya sepakat membentuk lingkungan, dan mengadakan Misa sebulan sekali di apartemen ini.

Undangan disebar kepada umat Katolik di apartemen yang mereka kenal. Jumlah umat yang mengikuti Misa pun bertambah. Mereka menyewa ruangan serbaguna yang waktu itu masih berukuran kecil. Lalu, mereka mengajukan permohonan kepada pengelola apartemen untuk memperluas ruangan tersebut. “Ternyata, permohonan ini dikabulkan,” kisah Soenardi.

Ruangan inilah yang sampai sekarang menjadi tempat Perayaan Ekaristi dan kegiatan rohani lainnya. Sekarang, untuk penyebaran informasi kegiatan, mereka juga menggunakan mailing-list dan membentuk grup di Blackberry Messenger (BBM). Setiap lingkungan mempunyai grup sendiri.

Setelah umat makin banyak, mulai dipikirkan adanya Misa mingguan dan pendirian stasi. Hal ini disampaikan ke Paroki Maria Bunda Karmel (MBK) Tomang, Jakarta Barat. Akhirnya, ditetapkanlah Stasi Fransiskus Asisi yang ditandai dengan pelantikan Pengurus Stasi pada Agustus 2009.

Di stasi ini, berbagai kelompok kegiatan rohani pun bermunculan, seperti Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) dan Kelompok Pendalaman Kitab Suci. Demikian juga kelompok minat dan bakat, seperti TA Brothers Kuliner yang beranggotakan para pria dewasa pencinta kuliner. Stasi juga membentuk kelompok untuk pelayanan liturgi: paduan suara, organis, prodiakon, putra-putri altar, dan lektor. Stasi ini benar-benar mandiri dan mempunyai tenaga pelayan awam yang cukup.

Dokter Soenardi mengatakan, “Pendidikan dan peningkatan kualitas tiap-tiap pelayan Misa juga kami perhatikan. Misalnya, lektor. Kami sering mengirimkan seorang lektor untuk mengikuti pelatihan lektor di Paroki MBK.” Menurutnya, semangat umat dan pengurus lingkungan serta pengurus stasi untuk tetap berkiprah terus terpelihara dengan adanya berbagai macam kegiatan.

Margaretha Xaverina menambahkan, mereka selalu mengajak umat terlibat dalam setiap kegiatan tanpa ada tendensi memaksa. Misalnya, kegiatan Bina Iman Anak, bakti sosial, dan kegiatan lainnya. “Dengan sering mengadakan kegiatan, akan banyak umat Katolik penghuni apartemen yang dulu pasif menjadi tertarik aktif mengikuti kegiatan stasi.”


SUMBER : R.B. Yoga Kuswandono - hidupkatolik.com

 

Kisah Hidup Menggereja di Apartemen

Kerinduan Michiela Mirah Krisna Tjandra untuk berkumpul dan berdoa bersama sesama umat Katolik tak tergerus kentalnya nuansa individualisme di sekitar apartemen tempatnya tinggal.

Misa, salah satu kegiatan rohani umat Katolik di apartemen.

 


Tahun 2008, ketika pindah dari kediamannya di Sunter, Jakarta Utara ke Apartemen The Villas, Kelapa Gading Square, Kelapa Gading, Jakarta Utara, ibu tiga anak ini mulai menggerakkan umat Katolik yang tinggal di apartemen ini. Hasilnya, tercipta keeratan jalinan hubungan di antara mereka.

Menurutnya, latar belakang mengapa ia bersemangat melakukan hal ini sebenarnya sederhana sekali. Pertama, ia merasakan kendala jarak yang cukup jauh saat mengikuti kegiatan lingkungan. Ia harus keluar dari apartemen dan bergabung dengan kompleks lain untuk ikut kegiatan Gereja. Kedua, waktu ia tinggal di Sunter Agung, ia sudah terbiasa aktif di lingkungan dan wilayah. “Ketiga, saya yakin setiap warga Katolik rindu untuk berkumpul, berdoa, dan bernyanyi bersama,” ungkapnya.

Anda Katolik?

Mirah, yang ketika remaja aktif menjadi organis Gereja, mendatangi pengelola apartemen dan menanyakan daftar nama warga. Nama orang yang, menurutnya, berbau Katolik ia catat dan ia hubungi. “Ada yang langsung saya datangi, ada yang saya hubungi melalui handphone,” jelasnya.

Selain itu, ia juga pernah melakukan cara yang cukup unik. Saat ada pameran di sekitar apartemen, ia memasang papan di depan pintu masuk apartemen, dengan tulisan “Anda Katolik?”. “Bagi yang mendekat, saya pastikan dia beragama Katolik. Kemudian saya memintanya untuk mengisi biodata berupa nama, alamat, dan nomor telepon,” ceritanya.

Selain upaya tersebut, Mirah juga berinisiatif mendatangi kediaman umat Katolik yang tinggal di apartemen yang berada di wilayah Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading, Jakarta Utara ini. Tak jarang berbagai kendala dialaminya. Pengajar katekumen di Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading ini pernah ditolak saat mengetuk pintu salah satu penghuni apartemen untuk mengkonfirmasi kesediaannya mengikuti kegiatan Gereja. Ia dianggap mengganggu.

“Itu saya anggap hal biasa. Saya tidak malu melakukan hal itu, karena semua ini saya lakukan untuk kepentingan bersama,” akunya.

Ketika umat Katolik mulai terkumpul, Mirah mulai mengupayakan terbentuknya lingkungan di apartemennya. Saat itu, tercatat 34 Kepala Keluarga (KK) yang sudah dihimpunnya. Mirah menghadap pastor Paroki Kelapa Gading untuk minta izin mendirikan lingkungan. Namun, Pastor menyarankan, untuk sementara umat Katolik di apartemen tempat ia tinggal bergabung dengan lingkungan lain dalam mengadakan satu kegiatan.

Hal ini justru membuat Mirah semakin bersemangat mengadakan kegiatan. “Puncaknya, pada pertengahan 2009, saya bersama umat Katolik yang lain menyelenggarakan Misa di apartemen ini. Sesudah Misa, dibentuklah pengurus lingkungan dan saya ditunjuk sebagai sekretaris,” demikian Mirah.

Umat Katolik di Apartemen The Villas akhirnya bergabung dengan apartemen lain, termasuk dalam lingkungan Anastasia V Paroki Kelapa Gading.

Umat di apartemen ini juga mengadakan kegiatan kerohanian layaknya kegiatan lingkungan pada umumnya, seperti pendalaman Kitab Suci, pendalaman iman, doa rosario bersama, doa lingkungan, bakti sosial, ziarah, dan latihan paduan suara. “Kami juga ikut serta menyumbangkan peran dalam tugas Misa di paroki,” jelasnya.

Mengenai penyebaran informasi kegiatan, umat Katolik di apartemen ini membuat pengumuman melalui kertas undangan yang dimasukkan ke dalam kotak surat pada unit tempat tinggal masing-masing umat. Jumlah umat yang berkumpul semakin bertambah, hingga akhirnya dibentuk koordinator blok. “Kami juga terbiasa menyebarkan informasi menggunakan Blackberry karena praktis dan cepat,” ungkap Mirah.

Kendala tempat

Dengan semua pencapaian itu, bukan berarti tidak ada kendala. Tempat tinggal di apartemen yang tidak terlalu luas dan mengedepankan privasi penghuninya menjadi kendala tersendiri. Pada Bulan Rosario, ada umat yang tidak mendapatkan giliran sebagai tuan rumah karena tidak dapat menampung jumlah umat yang hadir.

Mirah bersyukur, ada tempat tinggal umat yang luas, lebih dari seratus meter persegi, dan merelakan diri sebagai tuan rumah untuk kegiatan lingkungan. Untuk unit tempat tinggal yang luas, ruang tamu biasanya dapat menampung lebih dari 25 orang. “Jika untuk event yang besar, kami menyewa aula yang tersedia di apartemen,” katanya.

Agar acara berkumpul menjadi lebih leluasa, rileks, dan menghindari kesan formal, umat Katolik di apartemen ini biasa membuat janji berkumpul di kafe. Di tempat ini ada banyak kafe. Rapat lingkungan pun kadang diadakan di kafe, karena di tempat ini mereka lebih leluasa dan bebas bercanda. Tetapi, di lingkungan apartemen ini, juga ada beberapa umat yang tidak aktif lagi dengan alasan merasa tersinggung karena harus meninggalkan kartu identas di ruang satpam.

Dalam kondisi seperti ini, Mirah mengajak ketua lingkungan setempat untuk tetap menyapa dan mengajak umat yang tersinggung ini ikut kembali setiap ada kegiatan. Ibu yang mempunyai usaha pusat kebugaran di Sunter ini pun memberi penjelasan bahwa hal itu memang prosedur standar pengamanan. Satpam tidak salah melakukan hal tersebut, karena merupakan kewajiban tugas yang harus mereka laksanakan.

Menyikapi hal ini, Mirah berkoordinasi dengan pihak pengelola apartemen. “Saya sampaikan isi kegiatan dan rencana waktu pelaksanaannya, sehingga satpam lebih lunak menyambut kehadiran umat,” tuturnya.

Mirah masih menyimpan keinginan untuk menghimpun dan menggerakkan kaum muda di apartemen tempat ia tinggal. Menurutnya, kaum muda juga harus aktif ikut kegiatan di lingkungan. Ia punya gagasan untuk mengawalinya dengan camping rohani atau kumpul-kumpul di kafe dan nonton bareng. Setelah mereka saling kenal dan akrab, selanjutnya akan diarahkan untuk kegiatan di lingkungan.

Mirah bukan satu-satunya aktivis apartemen. Di sekitar Paroki Kelapa Gading, ada beberapa apartemen yang ditinggali beberapa umat Katolik. Salah satunya, Apartemen Wisma Gading Permai (WGP) di Boulevard Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Di WGP, terbentuk satu lingkungan dengan nama Lingkungan Andreas IV. Yohana Fransiska Erliani Johan didapuk menjadi ketua lingkungan dengan wakil Agus Satoto. Umat Katolik di WGP mulai berkumpul setelah saling kenal dan bertegur sapa di taman apartemen. Taman tersebut terletak persis di tengah WGP dan menjadi sarana bagi para penghuni untuk bercengkerama bersama keluarga sembari melepas lelah setelah seharian bekerja.

Sangat akrab

Erliani menceritakan, mereka saling mengetahui sesama umat Katolik setelah tanpa sengaja bertemu di taman ini. Waktu itu, kira-kira tahun 1998, dan mayoritas umat yang ada di sini adalah pasangan muda yang baru menikah. “Setelah itu, kami sepakat untuk berkumpul dan mengadakan kegiatan rohani bersama seperti doa rosario dan lainnya.”

Seiring dimulainya kegiatan rohani, pendataan umat Katolik pun dirintis. Suasana para penghuni di apartemen ini rupanya cukup mendukung. Nuansa acuh tak acuh tidak terasa di sini. “Beda dengan anggapan orang tentang apartemen pada umumnya. Warga di sini saling menolong,” demikian Erliani.

Untuk menyebarkan informasi kegiatan lingkungan, Erliani memasang pengumuman pada majalah dinding (mading) di masing-masing tower apartemen. “Namun, kami juga menyebarkan undangan kegiatan lewat pesan singkat (sms), karena lebih efektif dan pasti dibaca,” tambahnya.

Meskipun undangan telah disebar, tidak semua umat bisa mengikuti kegiatan rohani tersebut. “Itu biasa. Mereka punya cukup banyak kegiatan, sehingga kadang bisa hadir kadang tidak. Untuk aktif tidaknya umat tergantung pada pribadi masing-masing,” ujar Agus Satoto.

Namun, hal itu tidak membuat kegiatan rohani di apartemen tersendat. Kegiatan bakti sosial, kepedulian lingkungan, dan kegiatan yang bersifat sosial kemasyarakatan berlangsung lancar. Biasanya mereka bikin janji dulu, ketika akan bertemu untuk bakti sosial. Agus menempel dulu pengumuman di mading. Setelah sepakat, mereka menentukan tempat berkumpul, misalnya di taman. “Dari taman kami bersama-sama naik mobil menuju tempat bakti sosial,” jelasnya.

Lain halnya dengan pengalaman Stephanus Danny. Ia adalah Ketua Lingkungan Laurensius, sebuah lingkungan yang berada di Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Apartemen ini masuk dalam wilayah Paroki Maria Bunda Karmel (MBK) Tomang, Jakarta Barat. “Dari 100 persen umat Katolik penghuni apartemen ini, hanya 30 persen saja yang aktif dan terdaftar sebagai umat Lingkungan Laurensius,” jelasnya.

Kebanyakan penghuni apartemen memang tidak tinggal menetap di apartemen. Sebagian hanya mengontrak, dan sebagian lain hanya tinggal di apartemen saat hari kerja. “Ada umat yang tidak mau didata, karena selain hari Senin hingga Jumat, ia pulang ke paroki asalnya,” ungkap Danny.

Di sekitar Apartemen Mediterania, tumbuh apartemen-apartemen baru. Menurut Danny, ada juga umat Katolik yang tinggal di apartemen ini Danny ingin mengajak mereka mengikuti kegiatan lingkungan. Ia menegaskan, “Jika tidak ada yang menyapa dan mengajak mereka, akan semakin banyak umat yang pindah ke gereja lain.”


R.B. Yoga Kuswandono,
- hidupkatolik.com
Pelapor: Hubertus Hapsoro

Stasi ”Apartemen” Fransiskus Asisi

PDKK, salah satu kegiatan umat Stasi Fransiskus Asisi.-

 

Stasi ”Apartemen” Fransiskus Asisi, Tomang, Jakarta

Di apartemen megah yang terletak di Mal Taman Anggrek, Tomang, Jakarta Barat, berdiri sebuah Stasi bernama Stasi Fransiskus Asisi. Stasi ini masuk teritori Paroki Maria Bunda Karmel (MBK) Tomang, Jakarta Barat.

Pengurus Dewan Stasi terbentuk pada Agustus 2009. Jumlah umat yang menghadiri Misa mingguan di Stasi Santo Fransiskus Asisi sekitar 500 orang. Pada perayaan hari besar, seperti Natal atau Paskah, umat Katolik yang menghadiri Misa bisa mencapai sekitar 1.500 orang. Umat yang terdaftar sekitar 200 KK.

Stasi ini terdiri dari empat lingkungan. Setiap lingkungan terdiri dari dua tower, masing-masing dengan jumlah umat sekitar 40 KK. Lingkungan-lingkungan dari stasi ini adalah Lingkungan Santa Agatha, Lingkungan Santa Bernadette, Lingkungan Santa Clara, dan Lingkungan Santa Dominica.

Di stasi ini, Misa secara rutin diadakan pada hari Minggu pukul 10.00 WIB, dan Misa Jumat Pertama di Gedung Serba Guna, Apartemen Taman Anggrek.


R.B. Yoga Kuswandono
- hidupkatolik.com