Patung Tuan Ma Diarak Keliling Larantuka

Aurelius's picture

Umat dan peziarah di Larantuka, Flores Timur, NTT, memadati Gereja Kathedral untuk melakukan prosesi puncak Jumat Agung, Jumat (22/4/2011). Patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan Patung Tuan Ana (Yesus) akan diarak keliling Larantuka yang diwakili oleh 8 armida (tempat perhentian).

 

Warga menyalakan lilin ketika berziarah ke makam keluarga di Permakaman Katholik Reinha Rosari, sebagai rangkaian Pekan Suci atau Semana Santa bagi umat Katholik di Larantuka, Flores Timur, NTT, Jumat (22/4/2011) petang. Malam hari, juga dilaksanakan acara lainnya di antaranya prosesi Jumat Agung mengelilingi Kota Larantuka.

Sekitar pukul 19.00, umat mulai bergerak dari Gereja Kathedral mengantar Patung Tuan Ma dan Patung Tuan Ana menuju setiap armida. Armida-armida tersebut menyimbolkan kehidupan Yesus mulai dari masa Bunda Maria mengandung hingga wafatnya Yesus.

Delapan armida melambangkan 8 suku yang sebelumnya, pada pukul 18.00, Lakademu atau petugas yang akan menandu patung Tuan Ana melakukan jalan kure. Jalan kure adalah memeriksa situasi keamanan di sepanjang rute yang akan dilewati patung Tuan Ma dan patung Tuan Ana. Lakademu menggunakan baju khas Portugis dengan busana tertutup hingga ke wajah.

Sementara itu, di sore hari warga mulai menempatkan gambar dan patung Bunda Maria di muka rumah yang akan dilewati Patung Ma dan Patung Ana. Armida-armida pun dirias. Malam saat iring-iringan, ribuan umat dan peziarah baik penduduk Larantuka maupun pengunjung dari luar kota dan mancangera berbaur turun ke jalan.

Sambil berjalan, mereka terus melantunkan Salam Maria dan kidung-kidung. Masing-masing membawa lilin. Di Gereja Kathedral dan di setiap armida dilantunkan kidung "O Vos" atau ratapan derita Yesus.

Semana Santa adalah pekan suci yang dimulai dari Minggu Palem sampai Minggu Paskah. Ritual puncaknya pada saat Jumat Agung. Semana Santa merupakan perayaan Katolik khas masyarakat Larantuka, Flores Timur, NTT. Ritual ini sudah berlangsung selama 500 tahun dan merupakan ritual peninggalan Portugis.

Semua tradisi, ornamen, dan perlengkapan yang digunakan dalam pelaksanaan prosesi Jumat Agung adalah warisan Portugis. Bahkan untuk doa dan kidung pujian menggunakan bahasa Portugis.

 

TERKAIT:

sumber : kompas.com

3
Your rating: None Average: 3 (1 vote)

Comments

Aurelius's picture

Saat Paskah tiba, masyarakat

Saat Paskah tiba, masyarakat Flores punya cara unik merayakannya. Paskah tak hanya diperingati secara keagamaan dengan misa. Masyarakat Flores juga menjalani ritual peninggalan budaya nenek moyang. Budaya tradisi masih bertahan hingga kini dan menjadi daya tarik bagi turis lokal dan mancanegara. Ke Larantuka, masyarakat dari berbagai gugusan pulau di Nusa Tenggara Timur datang. Larantuka menjadi destinasi wisata religi sepanjang minggu ini.

Ritual Paskah di Larantuka berlangsung padat mulai Rabu (20/4/2011) hingga Minggu (24/4/2011). Siapa saja boleh ikut serta. Tak hanya umat Katolik yang merayakan Paskah karena, di Larantuka, perayaan Paskah merupakan paduan tradisi budaya suku dan ritual keagamaan umat Katolik.

Ribuan orang akan berkumpul mengikuti tradisi Paskah di Larantuka. Larantuka mulai dipenuhi pengunjung sejak Minggu Palem lalu hingga puncak acara Jumat Agung. Saat ini, warga dari berbagai pulau di Nusa Tenggara Timur berbondong-bondong meninggalkan desa menuju Larantuka. Meski begitu tidak semua warga merayakan di Larantuka. Masyarakat di Lamalera, misalnya, mereka memiliki tradisi perayaan Paskah tersendiri.

Saat singgah di Lembata pada Minggu Palem lalu (17/4/2011), Kompas.com menemui masyarakat di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, NTT. Sejumlah warga mengaku akan berangkat menuju Larantuka pada Rabu untuk mengikuti prosesi Jumat Agung. Namun, tak sedikit juga warga yang meninggalkan Lembata menuju Larantuka seusai Minggu Palem lalu. Diana Dasilva (30), karyawan LSM Internasional yang bekerja di Lembata, mengaku akan pulang ke kampung halamannya di Larantuka pada Rabu (20/4/2011).

Prosesi diawali dengan Rabu Trewa

"Tradisi paskah di Larantuka dimulai dengan ritual keagamaan Misa Rabu Trewa di masing-masing paroki. Ritual ini hanya ada di Larantuka. Trewa artinya bunyi-bunyian terakhir setelah misa pukul 20.00 Wita. Warga boleh memasang musik atau bunyi-bunyian lain. Gereja masih boleh membunyikan lonceng hingga pukul 20.00. Namun setelah misa Rabu malam, bunyi-bunyian tak dibolehkan," ucapDiana kepada Kompas.com di sela-sela pelatihan menulis dan fotografi untuk Forum Anak Lembata yang diadakan Plan Indonesia di Lewoleba, Lembata, NTT, 16-17 April 2011.

Kamis Putih

Esoknya, menurut Diana, pada perayaan perjamuan terakhir, Kamis Putih pukul 10.00 Wita, tak ada lagi bunyi-bunyian. Suasana Larantuka terasa sepi seperti halnya Nyepi pada masyarakat Hindu di Bali. Diana melanjutkan persiapan mengeluarkan Tuan Ma (patung Bunda Maria) dimulai pada Kamis Putih. Patung Bunda Maria di Kapel Maria Pante Kebis ini akan dimandikan oleh lima suku besar di Larantuka.

"Kegiatan ini tertutup untuk umum. Namun, setelah pemandian, warga biasanya mengambil air mandi di bak lalu dipindahkan ke botol untuk dibawa pulang," ucapnya seraya menambahkan bahwa air ini diyakini memiliki khasiat. Tuan Ma hanya dikeluarkan setahun sekali saat perayaan Paskah. Untuk pertama kalinya, hanya keluarga kerajaan yang boleh mencium Tuan Ma.

Kamis, mulai pukul 22.00 Wita, umat mulai melakukan lamentasi hingga pagi di Gereja Katedral Larantuka. Mereka juga diizinkan untuk mencium Tuan Ma di Kapel Pante Kebis dan Tuan Ana di Kapel Lohayong. Ritual mencium Tuan Ma dan Tuan Ana ini berlangsung hingga Jumat pukul 13.00 Wita.

Rangkaian prosesi Jumat Agung

Prosesi Jumat Agung dimulai dengan perarakan Tuan Ma dan Tuan Ana ke Katedral Reinha Rosari Larantuka. Mulai pukul 14.00 Wita, Tuan Ma menjemput Tuan Ana, lalu masuk ke gereja dengan iringan ribuan warga Larantuka, juga turis lokal dan mancanegara.

Tradisi Paskah di Larantuka pada Jumat Agung dilakukan di laut. Prosesi laut mulai pukul 12.00 WIB dari pantai Kota menuju pesisir, ke desa Pohon Sirih. Sebelum menuju kapel Tuan Ma dan Tuan Ana, warga lebih dahulu menyambut Tuan Meninu di pinggir pantai Desa Pohon Sirih.

Prosesi pengantaran Tuan Meninu (laskar laut) diawali oleh satu orang terpilih dari suku khusus yang menjunjung patung Tuan Meninu dari atas kapel menuju sampan khusus. Pada sampan ini, Tuan Meninu diletakkan di bagian depan dan satu orang pembawanya di belakang. Prosesi pengantaran Tuan diiringi warga menuju ke armida (tempat penataan patung) di dalam Kota Larantuka.

Untuk membuka jalan, anak-anak suku khusus berada di barisan depan iringan prosesi laut dari seberang Larantuka ini. Satu sampan berisi dua anak suku yang disebut laskar kecil. Sebanyak 7-8 sampan laskar kecil ini mengawal Tuan Meninu. Di belakangnya, warga mengikuti prosesi laut menuju ke pesisir. Perjalanan laut menuju Pohon Sirih berlangsung satu jam. Di pesisir pantai, warga dari dalam Kota Larantuka sudah menunggu. Setibanya di Pohon Sirih, Tuan Meninu diantar menuju armida Pohon Sirih. Selanjutnya, warga berjalan menuju kapel Tuan Ma, lalu menjemput Tuan Ana, dan bersama warga menuju Gereja Katedral.

Prosesi keliling delapan "armida"

Ritual keagamaan dilakukan dengan mencium salib (bagian dari penghormatan salib) di Gereja Katedral Larantuka mulai pukul 15.00 Wita. Lalu pukul 18.00, umat kembali menjalani prosesi yang dibuka dengan ovos atau peratapan. "Ovos atau nyanyian ratapan dilakukan di gereja selama 15 menit. Lalu umat keluar dari gereja dan mengelilingi delapan armida di Larantuka. Tuan Ma dan Tuan Ana beserta iring-iringan menjenguk delapan armida ini hingga pukul 03.00 Wita, hingga kembali lagi ke gereja" urai Diana.

Ritual Paskah di Larantuka belum berakhir. Pada Sabtu pukul 07.00 Wita, Tuan Ma dan Tuan Ana diantar pulang ke kapel masing-masing. Berbagai suku, umat, masyarakat Flores hingga tamu asing berbaur dalam rangkaian prosesi lebih dari 24 jam ini. "Saat ritual Paskah, semua rumah di Larantuka terbuka untuk siapa saja. Tamu asing boleh menumpang mandi atau merebah di setiap rumah," ucap Diana seraya menambahkan bahwa biasanya gereja juga menyiapkan pemandu wisata bagi tamu asing yang ingin mengikuti prosesi.

Suku mengambil alih prosesi

Sabtu (23/4/2011) pagi, saat Tuan Ma dan Tuan Ana kembali ke kapel masing-masing, suku mengambil alih prosesi. Suku khusus mengemas kembali Tuan Ma dan Tuan Ana, lalu kapel pun ditutup untuk umum.

Sabtu sore, warga Larantuka melakukan Misa Sabtu Santo (Misa Malam Paskah), mulai pukul 18.00 Wita. "Pada waktu inilah lonceng gereja boleh dibunyikan kembali," ujar Diana. Selanjutnya, ritual Paskah lebih pada upacara keagamaan. Misa Minggu dilakukan tiga kali, pukul 06.00, 08.00, dan 16.00 Wita.

Ritual Paskah di Larantuka berakhir dengan Misa. Warga kembali ke rumah dan  melepas lelah. "Hebatnya, selama mengikuti ritual suku dan agama sepanjang rangkaian prosesi Paskah, semua umat bersemangat dan kuat secara fisik. Memang setelahnya tubuh terasa lelah dan kebanyakan warga menikmati waktu istirahat seusai Misa Minggu," tutup Diana. 


KOMPAS IMAGES/WARDAH FAJRI
Lonceng Gereja hanya dibunyikan Rabu Trewa, lalu sunyi hingga dibunyikan kembali Sabtu Sore menjelang misa.

sumber : komps.com

Wisata Religi Peninggalan Portugis

LARANTUKA, — Sebuah kecamatan kecil di Flores Timur, NTT, bernama Larantuka ternyata menyimpan potensi wisata religi. Di tempat ini setiap tahunnya diselenggarakan tradisi Semana Santa dalam rangka perayaan Paskah. Semana Santa merupakan ritual peninggalan Portugis yang memadukan agama Katolik dan adat Larantuka.

Penduduk Larantuka dari generasi ke generasi telah melaksanakan Semana Santa selama 500 tahun. Selama perayaan Semana Santa, Larantuka yang sepi mendadak ramai. Bahkan, hotel-hotel penuh. Tiket pesawat, rental mobil, dan feri pun penuh. Ini ibarat semua orang pulang kampung untuk Lebaran. Belum lagi, para peziarah dari seluruh Indonesia dan mancanegara juga datang untuk mengikuti prosesi Semana Santa.

Para peziarah ini berwisata religi selama sepekan. Salah satu wisatawan tersebut adalah Beni asal Bogor dan Jakarta, yang bekerja di Manggarai, NTT. "Kami ke sini lewat darat. Semana Santa memang sudah terkenal di kalangan umat Katolik di Indonesia. Kami pikir mumpung sedang di NTT, kami sempatkan ke sini," tutur Beni, Jumat (22/4/2011). Ia pun datang bersama beberapa teman.

Sejumlah bus pariwisata pun tampak di titik-titik penginapan di Larantuka. Demikian juga beberapa wisatawan dari Jawa yang menggunakan seragam, mereka mengikuti semua prosesi Semana Santa. Namun sayang, selepas Semana Santa, Larantuka kembali sepi. Karena itu, pariwisata di Larantuka hanya hidup selama prosesi Semana Santa.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, Larantuka memiliki banyak situs religius bernapaskan Katolik yang bisa dikembangkan untuk wisata religi. Belum lagi pemandangan daerah ini indah, paduan antara laut dan gunung. Kendala utama untuk pariwisata adalah penginapan yang tidak memadai. Kurangnya penginapan semakin terasa saat perayaan Semana Santa.

"Katanya kalau mau dapat hotel yang paling bagus harus booking satu tahun sebelumnya," tutur Beni.

Presidenti Confreria Renha Rosari Larantuka atau biasa dikenal sebagai Raja Larantuka, Don Andre Martinus DVG, mengatakan setiap tahun pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk menyediakan kamar bagi para peziarah. "Kurangnya penginapan di Larantuka. Karena itu, beberapa masyarakat diminta kesediaannya menerima tamu. Ini juga bisa menambah perekonomian mereka," katanya kepada Kompas.com.

Ia mengatakan, Semana Santa merupakan salah satu aset budaya Flores Timur dan bisa membantu perekonomian penduduk setempat dengan adanya kedatangan wisatawan saat Semana Santa berlangsung. "Kami sedang kerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan Semana Santa sebagai pariwisata. Bukan sekadar sebagai ajang bisnis, melainkan sebagai aset budaya yang khas. Kami malah ingin majukan Larantuka jadi destinasi pariwisata untuk membantu masyarakat kecil. Kita sedang bahas supaya tidak keluar dari tradisi juga," ucapnya.

Sebelumnya, Project Manager Swiss Contact Ruedi Nuetzi mengatakan, setiap daerah di Flores memiliki kekhususan sendiri-sendiri dalam hal pariwisata. Swiss Contact merupakan LSM yang ditunjuk Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI di Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata sebagai fasilitator untuk mendukung Destination Management Organization atau tata kelola destinasi pariwisata di Flores, NTT.

"Di Flores, budayanya berbeda-beda. Potensi wisatanya juga beda. Bisa jadi satu daerah kental dengan aspek petualangan atau alam," katanya. Adapun Larantuka, lanjutnya, memiliki potensi wisata dengan kehidupan masyarakat yang agraris dan adatnya yang kental.

"Namun, selama ini daya tarik utama memang baru perayaan Paskah itu. Acara ini sifatnya musiman, hanya ada setahun sekali. Jadi, wisatawan yang datang juga musiman. Karena itu, kami sedang mencari, kira-kira apa lagi yang bisa menjadi daya tarik," urainya.

 
sumber : KOMPAS.com

Potensi Wisata Religi Larantuka

LARANTUKA,  Sebuah kecamatan kecil di Flores Timur, NTT bernama Larantuka ternyata menyimpan potensi wisata religi. Di tempat ini setiap tahunnya diselenggarakan tradisi Semana Santa dalam rangka perayaan Paskah.

Semana Santa merupakan ritual peninggalan Portugis yang memadukan agama Katolik dan adat Larantuka. Penduduk Larantuka dari generasi ke generasi telah melaksanakan Semana Santa selama 500 tahun.


KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT
Para petugas liturgi membawa lilin sambil membunyikan mataraka (alat bunyian dari kayu) sebagai tanda Yesus Kristus ditangkap dalam Misa Perjamuan Tuhan di Gereja Kathedral, Larantuka, Flores Timur, NTT, Kamis (21/4/2011) malam. Prosesi tersebut menjadi bagian dari perayaan Pekan Suci atau Semana Santa bagi umat Katholik di Larantuka.

Selama perayaan Semana Santa, Larantuka yang sepi mendadak ramai. Bahkan hotel-hotel penuh. Tiket pesawat, rental mobil, dan feri pun penuh. Ibarat semua orang pulang kampung untuk Lebaran. Belum lagi, para peziarah dari seluruh Indonesia maupun mancanegara juga datang untuk mengikuti prosesi Semana Santa.

Para peziarah ini berwisata religi selama sepekan. Salah satu wisatawan tersebut adalah Beni asal Bogor dan Jakarta, namun bekerja di Manggarai, NTT.

"Kami ke sini lewat darat. Semana Santa memang sudah terkenal di kalangan umat Katolik di Indonesia. Kami pikir mumpung sedang di NTT, kami sempatkan ke sini," tutur Beni, Jumat (22/4/2011). Ia datang bersama beberapa teman.

Beberapa bus pariwisata pun tampak di titik-titik penginapan di Larantuka. Pun beberapa wisatawan dari Jawa yang menggunakan seragam, mengikuti semua prosesi Semana Santa. Namun sayang, selepas Semana Santa, Larantuka kembali sepi.

Karena itu, pariwisata di Larantuka hanya hidup selama prosesi Semana Santa saja. Berdasarkan pantauan Kompas.com, Larantuka memiliki banyak situs-situs religius bernapaskan Katolik yang bisa dikembangkan untuk wisata religi. Belum lagi secara pemandangan indah, paduan antara laut dan gunung. Kendala utama untuk pariwisata adalah penginapan yang tidak memadai. Kurangnya penginapan semakin terasa di saat perayaan Semana Santa.

"Katanya kalau mau dapat hotel yang paling bagus, harus booking satu tahun sebelumnya," kata Beni. Presidenti Confreria Renha Rosari Larantuka atau biasa dikenal sebagai Raja Larantuka, Don Andre Martinus DVG, mengatakan setiap tahun pihaknya mengimbau masyarakat untuk menyediakan kamar bagi para peziarah.

"Kurangnya penginapan di Larantuka, karena itu beberapa masyarakat diminta kesediaannya menerima tamu. Ini juga bisa menambah perekonomian mereka," katanya kepada Kompas.com, Sabtu (23/4/2011). Ia mengatakan Semana Santa merupakan salah satu aset budaya Flores Timur dan bisa membantu perekonomian penduduk setempat dengan adanya kedatangan wisatawan saat Semana Santa berlangsung.

"Kami sedang kerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan Semana Santa sebagai pariwisata. Bukan sekadar sebagai ajang bisnis tapi sebagai aset budaya yang khas. Kami malah ingin majukan Larantuka jadi destinasi pariwisata untuk membantu masyarakat kecil. Kita sedang bahas supaya tidak keluar dari tradisi juga," jelasnya.

Sebelumnya, Project Manager Swiss Contact Ruedi Nuetzi mengatakan setiap daerah di Flores memiliki kekhususan sendiri-sendiri dalam hal pariwisata. Swiss Contact merupakan LSM yang ditunjuk Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI di Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata sebagai fasilitator untuk mendukung Destination Management Organization atau tata kelola destinasi pariwisata di Flores, NTT.

"Di Flores budayanya berbeda-beda, potensi wisatanya juga beda. Bisa jadi satu daerah kental dengan aspek petualangan atau alam," katanya kepada Kompas.com. Sedangkan untuk Larantuka, lanjutnya, memiliki potensi wisata dengan kehidupan masyarakat yang agraris dan adatnya yang kental.

"Tapi selama ini daya tarik utama memang baru perayaan Paskah itu. Acara ini tapi sifatnya musiman, hanya ada setahun sekali. Jadi wisatawan yang datang musiman. Karena itu, kami sedang mencari kira-kira apa lagi yang bisa menjadi daya tarik," jelasnya.

 

sumber : KOMPAS.com -

Aurelius's picture

Kapal Flotim maupun ketinting

Kapal Flotim maupun ketinting (sampan tradisional) memenuhi pesisir pantai Larantuka, untuk mengiringi Patung Tuan Meninu (Kanak Yesus). Iring-iringan tersebut merupakan bagian dari upacara prosesi laut atau yang disebut Persisan Anta Tuan yang berlangsung Jumat (22/4/2011).

KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT
Warga menyaksikan Tuan Menino atau Bayi Yesus (sampan depan tengah) yang tiba di Pantai Kuce setelah diberangkatkan dari Kapela Tuan Menino, di pelabuhan Sarotarike pada perayaan Pekan Suci atau Semana Santa bagi umat Katholik, di Larantuka, Flores Timur, NTT, Jumat (22/4/2011). Siang hari hingga dini hari pada Jumat Agung ini, dilaksanakan berbagai prosesi di antaranya mengantar Salib dari Kapela ke Armida dan prosesi Jumat Agung mengelilingi Kota Larantuka.

Upacara tersebut merupakan bagian dari perayaan Semana Santa atau pekan suci, tepatnya di puncak ritual yaitu pada Jumat Agung atau hari penyaliban dan kematian Yesus Kristus. Perayaan Semana Santa diperingati umat Katolik di Larantuka, Flores, NTT.

Sebelumnya di pagi hari, umat dan peziarah memadati Gereja Kathedral untuk mengikuti Jalan Salib. Sementara itu, Jalan Salib dilakukan pula di Kapela Tuan Meninu, Kota Rowido, Kelurahan Sarotati Tengah. Di sinilah pusat perhatian para umat dan peziarah. Patung Tuan Meninu dimandikan dan kemudian dikeluarkan dari Kapela. Patung Tuan Meninu lalu diarak menggunakan berok (sampan) melalui jalur laut menuju Armida (tempat perhentian) Tuan Menino, satu dari delapan armida dalam prosesi Jumat Agung.

Iring-iringan mengikuti mulai dari Pantai Kota hingga Pantai Kuce di depan Istana Raja Larantuka, di Kelurahan Pohon Sirih. Sepanjang perjalanan laut, Doa Bapa Kami dan Salam Maria terus dipanjatkan.

"Memang dari masa leluhur selalu melalui laut," kata Tante Dona, salah satu penduduk Larantuka. Umat dan peziarah yang mengikut lewat jalur darat tampak memadati titik perhentian di Pantai Kuce.

Selain patung Tuan Meninu, di Kapela Tuan Meninu juga terdapat patung Yesus Wafat di Salib yang dikeluarkan satu tahun sekali, yaitu hanya saat Jumat Agung. Tampak hadir pula Duta Besar Portugal untuk Indonesia Carlos Frota di Kapela Tuan Menino. Ia mengatakan sangat terkesan dengan ritual Semana Santa di Larantuka. Frota sudah dua kali mengikuti ritual yang merupakan peninggalan Portugis dari abad ke 16.

"Ritualnya berbeda kalau di Portugal. Di Portugal masih ada ritual ini, tapi biasanya di pedesaan. Kalau di kota ada, tapi paling hanya di lingkungan gereja. Tapi di sini ritualnya lengkap sekali mulai dari Bunda Maria sampai Yesus kanak-kanak juga ada. Di Portugal paling hanya peristiwa penderitaan dan penyaliban," jelas Frota kepada Kompas.com.

Semana Santa adalah pekan suci yang dimulai dari Minggu Palem sampai Minggu Paskah. Ritual puncaknya pada saat Jumat Agung. Semana Santa merupakan perayaan Katolik khas masyarakat Larantuka, Flores Timur, NTT.

Ritual ini sudah berlangsung selama 500 tahun dan merupakan ritual peninggalan Portugis. Semua tradisi, ornamen, dan perlengkapan yang digunakan dalam pelaksanaan prosesi Jumat Agung adalah warisan Portugis. Bahkan untuk doa dan kidung pujian menggunakan bahasa Portugis. 

 

sumber : kompas.com

Umat Muslim dan Hindu

Umat Muslim dan Hindu bergabung bersama ratusan umat Kristiani di Nusa Tenggara Timur dalam peluncuran tur Obor Paskah kemarin di Kupang.

Perjalanan selama satu tahun obor perdamaian ini digagas oleh Pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) yang dimulai di Kota Kupang pada 25 April dan akan berakhir di Jakarta pada Minggu Paskah tahun depan.

Gubernur NTT Fransiskus Lebu Raya pada acara pelepasan mengatakan “Tur Kemenangan Paskah’ tersebut akan menyebarkan pesan bahwa kehidupan beragama yang harmonis di NTT harus dipancarkan ke daerah-daerah lain di negeri ini.

“Kita harus mempertahankan nilai luhur perdamaian dan jangan membiarkan perbuatan tercela atau kepentingan individual merusaknya,” kata Lebu Raya.

Ketua panitia pawai GMIT Winston Rondo mengatakan obor perdamaian akan mengunjungi berbagai lokasi di NTT, Bali, Maluku, Sulwesi, Kalimantan, Sumatra dan Jawa, sebelum berakhir di Jakarta.

Ia menambahkan kegiatan tersebut adalah bagian dari rencana Gereja untuk mempererat hubungan antaragama dan antar pemuda di NTT.

“Pawai obor Paskah ingin menyampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia betapa indahnya hidup harmonis dan membangun bangsa bersama-sama,” kata Winston. 

sumber : ucanews.com

 

Umat Kristiani di Kupang merayakan Paskah
dengan pawai dan tarian (foto kompas.com)


------------------------------------------------


Catholic Church of St. William the Hermit, Cathedral of Diocese of Laoag, Philippines
(FB : catholic church)

------------------------------------------------

Catholic Church St. Anthony of Padua, New Bedford, Diocese of Fall River, United States
(FB : catholic church)

------------------------------------------------

Acara soft launching Katedral Pontianak yang menurut jadwal akan dilakukan pada hari Jumat tanggal 12 Desember 2014 diputuskan ditunda


 Mgr Subianto tahbiskan gereja tujuh gunungan atap yang pernah bermasalah. Karena rahmat Kristus, cinta kasih Allah, berkat karunia Roh Kudus, dan bantuan umat beriman di tempat lain, umat beriman Cikampek membangun gereja, bagaikan di padang gurun.
(courtesy :  " penakatolik com")

------------------------------------------------