Mengenang Romo Oey Goan Tjiang

Mengenang Romo Oey Goan Tjiang SJ

Oei "Ular"

Sebutan dalam judul itulah yang sering dipakai orang menyebutnya. Tubuhnya sudah tidak sekuat dahulu. Di pastoran paroki Mangga Besar, daerah kota lama sekitar sebelas tahun yang lalu, penulis bertemu sosok seorang imam Jesuit senior dan sangat ngirit omongannya.

Hanya berjabat tangan ketika kami berkenalan. Tidak banyak pertanyaan atau tegur sapa. Ia menjawab sebatas ada pertanyaan yang keluar. Dialah sosok Oei Goan Tjiang dengan nama baptis Marinus. Kalau belum kenal betul memang seperti pribadi yang dingin, sedingin binatang yang pernah menjadi hobi piaraannya, yaitu ular.

Oei Goan Tjiang lahir pada 22 Mei 1920 di Padang dari pasangan Oei Seng Tek dan Maria Ho Kie Lan Nio. Nama permandian Marinus ia peroleh pada masa kecilnya di Padang itu. Pembaptisan itu ternyata membawa dampak bahwa ibu, kakak dan adiknya menjadi Katolik. Ia mulai merantau ke Jakarta menyusul kakaknya Jacob Widya untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas AMS Kolese Kanisius. Pertemuan dengan seorang Jesuit yaitu Rm. Perquins, SJ dan kesaksian iman dari para guru sekolah membawanya untuk memasuki Serikat Yesus.

Pada masa perang berkecamuk, yaitu Perang Dunia II, ia menjalani hidup yang juga tidak mudah sebagai novis di Girisonta, Ungaran jawa Tengah. Bahkan masa yuniorat yang seharusnya dijalaninya di Girisonta, tidak dapat ia jalani karena diinternir ke Magelang dan Muntilan bersama yunior yang lain. Zaman itu mendidiknya juga.

Pada tahun 1946, Oei menjalani pendidikan filsafatnya di Kolese St. Ignatius Yogyakarta. Itu ia jalani sampai dengan tahun 1949. Tahun Orientasi Kerasulan dijalaninya di Kolese Kanisius Menteng, Jakarta. Di sana ia sebagai “surveilant” (pamong) di asrama. Setelah itu, ia memasuki jenjang teologi. Teologi ia jalani di Philipina pada tahun 1952. Waktu itu, masih berlaku kebiasaan teologan Jesuit ditahbiskan pada tahun ketiga teologinya. Bersama 12 imam lain dari 6 negara, pada tanggal 18 Maret 1955, frater Oei menerima tahbisan di Baguio, Philipina. Setahun kemudian ia kembali ke Indonesia dan ia harus menjalani tahun tersiat di Girisonta.

Rm. Oei adalah sosok pribadi yang mencintai alam dan kehidupan. Ini terlihat dari kecintaannya memelihara binatang-binatang. Ia adalah sosok pribadi yang menjadikan kehidupannya berarti karena ia mencintai kehidupan dari Sang Pencipta. Kecintaan kepada kehidupan dikembangkan dalam sikap memiliki hobi. Rm Oei senantiasa mengajarkan kepada setiap orang yang dijumpainya agar memiliki hobi. Ternyata, ajaran yang mau disampaikan Rm Oei mengenai hobi adalah bahwa hidup begitu indah dan berarti. Ada banyak hal dan kesempatan yang Tuhan berikan untuk mengisi kehidupan. Tuhan tidak menganugerahkan kehidupan hanya sekedar untuk dilalui and kemudian terlupakan. Manusia diberi rahmat untuk meninggalkan warisan hidupnya bagi sesama dan melalui hobi, Rm Oei membina relasi cinta yang erat dengan sesama.

“Saya mencoba mengingat kenangan manis dengan Pater Oei Goan Tjiang SJ. Tahun 1967, ketika saya di Loyola, saya masih kelas satu. Suatu hari, saya mendengar ada Pater Oei yang punya hobi pelihara ular di kamarnya. Saya penasaran dan ingin tahu mengenai beliau karena saya pikir ini hobi yang aneh bagi seorang Romo. Saya kenal baik Pater van Deinse, SJ yang sering mengajak saya mendengarkan musik klasik di kamarnya. Pastor punya hobi musik, wajarlah. Lha, ini koq, hobinya pelihara ular. Oleh karena itu, saya memberanikan diri di saat jam istirahat mendatangi Pater Oei di kamarnya dan menyampaikan maksud ingin melihat ular. Pater Oei mempersilakan saya masuk ke kamarnya dan menjelaskan beberapa jenis ular di kandang. “Ini yang paling galak, ular Phyton dewasa. Ia memberontak kalau kena cahaya dan melihat orang”, kata Pater Oei menjelaskan. Rupanya karena ular galak, kandang terkunci rapat dan disimpan di kolong ranjang. Ada pula ular Picuk Hijau, pemakan cicak. “(Ini) beracun tapi tidak fatal bagi manusia”, Pater Oei menjelaskan. Ada ular tambak, sangat beracun, diletakkan dalam kotak kaca. Saya bertanya, “Ular Phyton makan apa?” Pater Oei menjawab, “Makan tikus”. Saya bertanya lagi, “Dari mana Pater mendapatkan tikus?” Pater Oei mengeluh, “Ya, itulah, kadang-kadang susah mencarinya.” Saya pun menjawab, “Di rumah saya banyak tikus got, Pater. Saya bisa menangkapnya pakai perangkap. Bolehkah saya bawa untuk makanan ular?” “Boleh,” jawab Pater Oei girang. “Tapi tikusnya harus hidup”, tukasnya mengkisahkan pengalaman sang murid tentang gurunya, Pater Oei.

Seorang Oei memang unik dan terkesan aneh. Tetapi justru itulah yang mengesan bagi banyak orang dalam hidup. Anak Padang ini, sudah tidak doyan pedas (kecuali kalau suka lupa pedas). Meskipun Padang, tapi lurus (tidak seperti pepatah: Padang Bengkok). Meski China, tapi luwes omong Jawa. Bagusnya, kalau diajak omong bahasa jawa Kromo, pasti tidak dapat marah. Ada trauma dari pengalaman masa lampau. Ada dan itu wajar. Namun hebatnya, jarang beliau ngrumpiin orang-orang tentang sakit hatinya…Paling-paling beliau hanya bertanya, “Mengapa?” Seperti Maria menyimpan semua perkara dalam hatinya dan merenungkannya. Karunia Tuhan yang nampak ialah kesehatan dan ketaatannya. Sampai pada umur tuanya, tidak mempunyai penyakit yang mengharuskannya berdiet. Demikian ungkapan Rm. Djitapandrija, SJ rekan serumah dan sekarya sampai dengan saat ini.......
 

sumber :  dragon-fire (di 16:06 - 01 Juni 2009) , mailing list


RIP Rm Oey Goan Tjiang SJ (4 Nop - 2011 ; pk.07.35)
Misa requiem di gereja mangga besar: jumat pk. 18.00,
Sabtu pk 06.00 dan 18.00 (St. Petrus Paulus)
Minggu pagi dimakamkan di giri sonta.

 

 

0
Your rating: None

Comments

Romo Oei - AUDAX VERO

Pertama kali saya bertemu beliau pada tahun 1991, dimana Romo Oei baru datang ke Paroki Mangga Besar  sebagai Pastur pengganti Romo Rochadi Pr, yaitu Pastur yang mengurusi bidang mudika. Dan saat itu saya sebgai ketua Mudika Paroki yang memang secara khusus membuat acara perkenalan dengan beliau. Kesan pertama cukup kaget dan heran, "Lho khog pastor mudika yang ini sudah tua banget yaaa....?".

Sejalan dengan waktu, karena memang aktivitas di Mudika Paroki saya jadi  sering berhubungan dengan Romo Oei dan akhirnya saya bisa lebih mengenal jauh tentang beliau. Dia adalah sosok "pelayan" yang tegas dan kolot (dalam arti ya harus sesuai aturan gereja atau tata cara liturgi yang aku), jika menyalahi atau dia anggap menyimpang, jangan kaget kalau kita kena semprot pedas. Dia juga bukan hanya kolektor dan penyayang binatang, tapi saya juga melihat dia juga seorang penulis. Ya, dia menulis untuk beberapa liturgi untuk dia bawakan sendiri.

Perasaan bangga dan haru saya adalah terjadi tahun lalu ( 2010 ), dimana dia sudah duduk dikursi roda dan sudah mulai pikun. Setiap pagi dia dengan kursi rodanya yang didorong suster atau pegawai pastoran selalu menyempatkan diri untuk berdiam di pintu gerbang utama gereja. UNtuk berjemur atau juga untuk menghlangkan kejenuhan. Ketika saya melihat beliau saya menegur, dan dia ternyata masih mengenali saya ( karena saya anggap ingatan sdh sangat sulit) dan membalas menyapa saya "Hei Leo sedang apa...?". Karena beliau menyapa saya maka saya mulai bercerita tentang perjalanan yang baru saya lakukan , yaitu ke daerah Pagar Alam -Sumsel. Tahu apa yang terjadi ? Romo Oei dengan panjang lebar menjelaskan tentang Pagar Alam kepada saya.... Itu membuat saya kagum dan terharu....

Romo Oei selalu menjadi kenangan saya, dia juga yang memberikan slogan Mudika Paroki Mangga Besar di era saya. Slogan yang diberikan adalah "AUDAX VERO" artinya BERANI KARENA BENAR". Dan saya tahu slogan itu juga mengakar pada diri Romo Oei.

Selamat Jalan Romo Oei

Leonardus Pjos

Yang Sigap & Yang Sambalewa

Kedatangan Jesus kelak tidak kita ketahu hari maupun saatnya. Jesus akan datang membangkitkan kita, bila kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya, bila kita hidup kudus (1 Tes.4:12 - 17). Karena itu kita juga harus bijaksana, harus mempersiapkan diri. Kita tak perlu takut atau terpaksa, tetapi kita perlu rela bersusah payah mempersiapkan diri, bahkan berkurban.

Sebab  itu jangan kita berpikir bahwa kita masih mempunyai banyak waktu, sehingga persiapan untuk pertemuan dengan Tuhan Allah kita tunda dulu. Kita tidak tahu, kapan saatnya Ia datang memanggil kita.

diambil dari bacaan hari minggu biasa XXXII/06 Nopember 2011 - Lembaran Lonceng Gereja St. Petrus & Paulus.

Pada hari Jumat 4 November 2011 yang lalu, Romo P. Marinus Oei Goan Tjiang SJ, telah dipanggil Allah pada puku 07:35. Tampaknya semua sudah siap-siap. Tapi kapan persis waktunya tidak ada yang tahu.

Dia sudah 20 tahun bersama kita di paroki (Petrus & Paulus - Mangga Besar). Kehadiran dan karyanya sangat memperkuat kesatuan kita. Pada akhir-akhir ini setiap pagi Rm Oei SJ masih ikut misa dengan rendah hati di atas kursi roda. Disinlah ada suatu tahap purificatio, tahap pembersihan dari segala kemampuan. Kemampuan untuk berjalan, melihat, berkotbah, mengingat diambil daripadanya.

Sebagai seorang Jesuit yang mempunyai moto Contemplatio in Actione, tidak dapat dihayati dalam pelayanan tetapi masih dapat dihayati dalam dimensi kerasulan. Rm Oei masih tetap merasul meskipun tidak dengan apa-apa. Tidak dengan kegiatan jugA. Dia merasul dengan seluruh keberadaan dia yang didorong untuk makan, ke kamar mandi atau ke gereja. Dia mau terus mandiri tetapi penuh taat setia melaksanakan kewajiban; ketia dia harus makan obat yang pahit, tidak merokok, dsb.

Rm Oei yang biasanya melayani, sekarang mulai dilayani. Menerima dilayani orang lain itu adalah sesuatu yang berat; biasanya bergerak sendiri, sekarang harus digerakkan.Biasanya miring sendiri, kini harus dimiringkan. Biasanya mandi sendiri, kit harus dimandikan. Dia tidak mampu apa-apa lagi tetapi dapat menjalaninya dengan damai gembira cita dalam kerendahan hati. Inilah tgeladan ke-sigap-an dengan proses purificatio untuk semakin bersatu dengan AllaH.