GOTAUS - Gerakan Orang Tua Asuh Untuk Seminari

Gerakan Orang Tua Asuh Untuk Seminari (GOTAUS)
GOTAUS didirikan pada tahun 2001, dibawah naungan Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia KWI) oleh para aktifis yang merasa prihatin dengan pendidikan Seminari di Indonesia. Mereka dengan berbagai cara mengetuk dan mencari "Dana Murah Hati" dari Umat Katolik untuk disalurkan ke seluruh Seminari Menengah di Indonesia.

Dana yang terkumpul akan  dikirim dua kali dalam satu tahun. Biasanya Dana ini dikirimkan pada awal semester. Sebagai bentuk pertanggung jawaban, GOTAUS menyususn Buku Laporan Tahunan dan membuat laporan keuangan (sesuai dengan standar laporan keuangan yang berlaku). Pertanggung jawaban ini di berikan kepada Para Uskup di seluruh Indonesia, para Donatur, dan Seminari Menegah Seluruh Indonesia.

Alamat Sekretarian GOTAUS:

Gedung KWI
Jl. Cut Meutia 10 Jakarta 10340
Telp. (021) 31907386, 94835077
Fax. (021) 31905423
email : gotaus_komsem@yahoo.com

 

link :

http://www.seminarikwi.org/index.php?pilih=hal&id=134

http://seminaritukabali.blogspot.com/2011/07/surat-rektor-info-dan-gerakan-orang-tua.html

 

0
Your rating: None

Comments

Misa Konselebrasi untuk GOTAUS

Misa Konselebrasi untuk GOTAUS Di Gereja St. Yakobus Kelapa Gadung

minggu tanggal 13 Nopember 2011 - pukul 10.30

i

ii

iii

iv

 

v

 

sumber : facebook.com/Pebrijana.Sunardi - parokiyakobus.files.wordpress.com

Misa ulang tahun GOTAUS di gereja Yakobus

Misa ulang tahun GOTAUS diadakan di gereja Yakobus
pada hari Minggu tanggal 13 November 2011 Jam 10.30
bersama beberapa Uskup/Uskup Agung.

Apa arti SEMINARI ?

Seminari, berasal dari bahasa Latin Seminarium yang terbentuk dari kata dasar Semen, artinya benih. Maka, Seminari berarti tempat penyemaian benih. Maka Seminari berarti tempat bertumbuhnya benih panggilan rohani yang ada pada diri seseorang dalam suatu tempat pendidikan. Dalam lingkungan gereja Katolik, terdapat dua jenjang / tingkat seminari, yaitu Seminari Menengah (setingkat SMA0 dan Seminari Tinggi (setingkat perguruan tinggi).

Apakah hubungan Seminari dengan GOTAUS?

Gagasan dibentuknya GOTAUS berawal pada tahun 1996, saat Rektor Seminari Menengah Petrus Kanisius Mertoyudan mengirim surat kepada beberapa pribadi di Jakarta untuk memberitahukan keadaan bangunan Seminari, khususnya atapnya yang hampir roboh. Sementara dari pihak Keuskupan Agung Semarang memberi sinyal agar pihak seminari mencari dana sendiri untuk melakukan perbaikan. Hal ini mengharuskan Rektor memeras otak untuk mendapatkan sumber dana yang dibutuhkan.

Sebuah kebetulan yang sangat menggembirakan, saat sebuah tim kecil dari Jakarta dalam perjalanan dinas ke Jogyakarta menyempatkan mampir berkunjung ke Seminari Mertoyudan. Dipandu oleh Rektor, tim kecil ini menyusuri lorong-lorong, melihat aktivitas di seminari, dan akhirnya singgah di kapel. Suatu gambaran kesimpulan melekat, bahwa seluruh sarana dan prasarana seminari membutuhkan perbaikan.

Sesampainya di Jakarta, tim kecil ini menghubungi rekan-rekan seiman, dan ternyata gayung bersambut. Dalam perkembangannya, muncul pemikiran bahwa kalau Seminari Mertoyudan saja, yang menyandang nama besar dan dikenal luas, kondisinya begitu memprihatinkan, lalu bagaimana dengan nasib seminari-seminari yang lain, termasuk di luar pulau Jawa?

Maka realitas tersebut memacu kelompok kecil peduliwan ini untuk terus bergerak tetap bersemangat mengetuk hati rekan-rekan dan sahabat dari mulut ke mulut, menyampaikan berita keprihatinan ini. Kelompok ini menamakan diri Kelompok Semangat.

Menjelang dan sekitar krisis tahun 1997, situasi politik nasional sangat tidak menguntungkan bagi umat Kristiani, sehingga gerakan yang murni kepedulian awam ini mulai dituding yang aneh-aneh. Beberapa peduliwan ditempa issue mencari keuntungan pribadi atas nama Gereja.

Ketika krisis perbankan nasional menerpa, tiupan angin kencang bersamaan dengan ambruknya ekonomi nasional, banyak lembaga keuangan tutup, diikuti perusahaan-perusaha an barang dan jasa, dan banyak peduliwan kehilangan jabatan dan atau pekerjaan.

Ditengah kegetiran yang mendalam itu tetap saja ada yang membanggakan, ternyata sedikit tabungan yang pernah terkumpul sampai menjelang krisis ekonomi, tetap terjaga dan terpelihara dengan baik dan rapih. Dari tabungan inilah Kelompok Semangat ingin meneruskan perhatiannya ke seminari.

Dari ide awal para peduliwan Kelompok Semangat yaitu perhatian terhadap perbaikan sarana dan prasarana seminari menengah, ternyata ditengah krisis yang memporak-porandakan sendi-sendi ekonomi, permasalahan yang terungkap semakin dalam. Yang mendesak diperlukan oleh seminari menengah adalah kebutuhan sehari-hari para seminaris. Sebagai gambaran, dari 33 Seminari Menengah di Indonesia hampir 90% mengalami kekurangan dan rendahnya mutu fasilitas belajar, pembinaan rohani dan kepribadian. Bahkan beberapa seminari terpaksa merelakan tenaga pengajar pindah ke sekolah lain karena tidak mampu membayar gaji yang layak. Belum lagi mengenai kualitas asupan gizi yang diperoleh, mengingat keterbatasan dalam menyediakan menu harian yang cukup (dalam jumlah maupun kualitas). Hal ini khususnya mencuat di luar pulau Jawa. Ketika hal ini dibicarakan dalam pertemuan-pertemuan muncullah pemikiran agar tujuan awal oleh para peduliwan tetap tidak berubah maka semangat ini perlu dilipatgandakan atau ditularkan kepada umat lain.

Atas dasar pemikiran tersebut, maka lahirlah GOTAUS ( GERAKAN ORANG TUA ASUH UNTUK SEMINARI ) pada tahun 2001. Inti dari pemikiran awalnya adalah agar permasalahan kebutuhan sehari-hari yang dihadapi sekolah seminari dapat menjadi bagian dari kepedulian awam yang lebih luas, sehingga meski secara individual umat berkontribusi kecil, namun dengan kebersamaan, kontribusi bersama itu tentu menjadi berarti.

Dalam perjalanannya GOTAUS lalu menjadi mitra resmi Komisi Seminari KWI / Konferensi WaliGereja Indonesia. Hal ini kiranya menjadi simbol terbukanya ‘pintu’ hati mereka sekalian yang bertanggung jawab atas pembinaan panggilan, baik kalangan hirarki maupun awam.

Adalah sebuah impian dan harapan besar bahwa ‘pintu’ yang terbuka ini bukan hanya di kalangan KWI saja, para Uskup dan para pengurus GOTAUS saja, tetapi dapat menular dan mengetuk ‘pintu-pintu hati’ umat di setiap Keuskupan agar lahirlah juga sebuah GOTAUS di setiap ‘jantung Keuskupan’. Saat ini gerakan `moral’ ini telah menyebar dan
mulai tumbuh di beberapa keuskupan, sehingga diharapkan partisipasi umat akan semakin nyata.

Jadi, apa yang diharapkan dari umat dan kaum awam?

Tentu saja, dukungan doa yang tulus dan terus-menerus akan karya pendidikan calon-calon imam ini sangat diharapkan dari umat, sebagaimana disampaikan oleh Beato Paus Yohanes Paulus II: “Setiap umat Katolik bertanggung jawab atas pembinaan calon imam mereka.” Disamping itu, diharapkan pula dukungan dana dari umat untuk pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan di seminari-seminari, teristimewa secara rutin sebagai Donatur Tetap. Penjelasan lebih terinci mengenai hal ini tersedia dalam lembaran leaflet yang dibagikan dalam kegiatan sosialisasi, atau dapat juga menghubungi:

Pengurus GOTAUS, Gedung KWI Matraman

Gedung KWI
Jl. Cut Meutia 10 Jakarta 10340
Telp. (021) 31907386, 94835077
Fax. (021) 31905423
email : gotaus_komsem@yahoo.com

 

Jika ‘Seminari adalah jantung Keuskupan’, maka kita-lah ‘darahnya yang membuat hidup dan terpompa teratur, penuh ritmik, menarik dan indah bagai sebuah simponi’. Maju terus GOTAUS!

--------

Seno (Sie Panggilan – Paroki Kelapa Gading) - parokiyakobus.wordpress.com/