Gagal menjadi seorang Pastor

herrissa's picture

Romo saya mau tanya ,

Kita tahu bahwa untuk menjadi seorang Pastor harus melalui perjuangan yang sangat panjang , baik perjuangan dalam pendidikan maupun perjuangan dalam rohani. Tetapi untuk keluar kok rasanya begitu mudah ?

Belum lama berselang ada seorang Pastor muda di Tangerang keluar dan sekarang menjadi umat biasa , padahal beliau termasuk Pastor yang potensial. Kemudian di Stasi Gregorius banyak umat yang katanya dulu mantan Pastor.

Yang ingin saya tanyakan :

1.Apa yang menyebabkan seorang Pastor keluar dan menjadi umat biasa ?

2.Apakah yang bisa umat lakukan untuk membantu mempertahankan agar tidak terjadi Pator keluar / gagal ? 

2.Apakah bisa seorang Pastor pindah Kongregasi , Misalnya dari SJ ke PR ?

Semoga Romo berkenan untuk menjelaskan.

 

send by Gandhi (www.santamaria.or.id)

0
Your rating: None

Comments

Aurelius's picture

Pastor pindah status jadi awam?

Pastor pindah status jadi awam?

Saudara Gandhi,

Sebelum menjawab pertanyaan, perlu diperjelas istilah yang dipakai dalam pertanyaan yang disampaikan Sdr Gandi, yaitu istilah Pastor, praja, Ordo, kongergasi. Pastor (dari bahasa latin yang artinya gembala) adalah sebutan imam untuk Gereja katolik yang mendapat wewenang memimpin umat berdasarkan sakramen tahbisan oleh Uskup. Pastor yang berasal dari dioses (wilayah Gerejani) yang hidup dan bekerja langsung di bawah pimpinan oleh Uskup disebut pastor atau imam diosesan atau praja (PR). Maka kelompok imam praja tidak disebut sebagai kongergasi. Ordo adalah kelompok religius yang didirikan abad 15 atau sebelumnya serta diperkenankan oleh Paus untuk membuat dan memiliki konstitusi sendiri. Serikat Jesus (SJ) adalah Ordo terakhir dalam Gereja Katolik yang didirikan tahun 1540, dan kelompok religius yang didirikan sesudahnya disebut kongergasi.. Kongergasi adalah kelompok religius (ada yang terdiri dari para suster, ada yang terdiri dari para bruder, ada yang terdiri dari para bruder dan imam) yang didirikan setelah SJ dan tidak mempunyai konstitusi sendiri tetapi mengadopsi dari ordo-ordo yang sudah ada. Contohnya kongergasi suster Yesus Maria Yosef (YMY), kongergasi imam-imam SSCC, kongergasi bruder-bruder Aloysius (CSA). Dalam pembicaraan biasanya pastor dari ordo atau kongergasi disebut pastor/imam religius, sedangkan imam dari diosesan (dari dioses/keuskupan tertentu) disebut pastor/imam praja.

Memang, untuk menjadi pastor kompeten harus melalui perjuangan berat dan panjang. Untuk pastor praja biasanya dibutuhkan waktu pendidikan selama 8-10 tahun. Untuk menjadi pastor religius, misalnya dalam Serikat Jesus (SJ), dibutuhkan sekitar 11-13 tahun. Begitu pula, untuk keluar tidak lagi menjadi pastor, biasanya orang mengalami pergulatan yang panjang dan tidak mudah, termasuk di dalamnya adalah pergulatan selama 8-10 tahun atau 11-13 tahun itu. Saya akan langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan saudara/i:

1. Ada berbagai macam faktor yang menyebabkan seorang tidak menjadi pastor lagi dan menjadi umat biasa, antara lain faktor-faktornya adalah sebagai berikut:

a. Pastor keluar atau dikeluarkan dari imamat karena tidak bisa taat lagi pada atasannya yaitu uskup (untuk imam praja) atau pembesar kongergasi/ordo (biasanya disebut provincial untuk imam religius) setelah diperingatkan berulang-ulang, padahal suatu organisasi seperti Gereja hanya bisa hidup dengan baik kalau para pastor itu hidup dalam ketaatan pada atasan. Sama halnya dalam suatu perusahaan, kalau seorang karyawan tidak taat pada direktur, biasanya perusahaan juga tidak akan berjalan dengan sukses. Apalagi proses pemilihan uskup maupun provincial umumnya amat hati-hati dengan mendengarkan suara dari para pastor lainnya agar dihasilkan calon-calon uskup atau provincial yang terbaik yang diajukan pada Paus atau Pemimpin Umum kelompok religius terkait

b. Pastor tidak lagi menjadi imam karena dia merasa tidak cocok lagi dengan cara hidup sebagai pastor, tidak tahan lagi dengan tugas-tugas (yang selama masa pendidikan tidak dialami), mengalami kebosanan yang amat mendalam atas tugas-tugas dan jabatan pastor, tidak bisa hidup dalam kesederhanaan atau kemiskinan yang dituntut dari seorang pastor oleh Gereja. Seringkali hal ini disebabkan oleh tidak adanya keakraban dengan Tuhannya yang harus dibina melalui doa pribadi.

c. Pastor tidak tahan dengan kehidupan imamat karena dalam perjalanan dia memiliki paham hidup yang berbeda dengan Gereja Katolik, misalnya lebih cocok dengan faham hidup sebagai orang protestan. Maka ada pastor yang keluar kemudian pindah menjadi pendeta protestan.

d. Pastor tidak tahan secara psikologis atau tidak terpenuhi kebutuhannya atas dukungan minimal untuk mempertahankan cara hidup sebagai pastor, misalnya tidak ada orang yang dipercayai, tidak ada teman, orang-orang yang hidup bersama dia tidak dirasakan sebagai komunitas yang mendukung panggilannya, atau pastor itu sendiri tidak bisa hidup berkomunitas karena lebih suka mengikuti kehendak dirinya sendiri atau egoistis.

e. Pastor tidak dapat hidup selibat lagi, padahal pastor dalam Gereja Roma Katolik Latin harus selibat (dalam Gereja Roma Katolik Ritus Timur ada yang menikah). Oleh karena itu, pastor itu memilih keluar dan mencari calon istri. Tidak tahan selibat juga bisa disebabkan karena kadang-kadang ada wanita yang tertarik dan mengejar-ngejar pastor ini. Ada pastor yang dikeluarkan dari kongergasi/ordo karena pastor itu sudah memiliki anak kandung sehingga pasti dia sudah tidak selibat, padahal salah satu kaul seorang pastor religius adalah selibat, di samping kaul kemiskinan dan ketaatan.

2. Apa yang bisa dibuat oleh umat untuk membantu para pastor bertahan?

a. Membantu para pastor dengan doa yang sungguh-sungguh penuh cinta agar pastor tetap setia, entah dalam misa atau ibadat lingkungan. Dalam Gereja Katolik, biasanya Sabtu pertama tiap bulan disebut Sabtu Imam, karena pada hari itu umat diingatkan untuk berdoa bagi para imam, para calon imam, dan panggilan untuk menjadi imam.

b. Dengan diam alias tidak cerewet menggosipkan pastor atau mengadu domba pastor dalam komunitas yang sama, sehingga mereka tetap merasa dicintai umatnya, dan rukun satu sama lain.

c. Umat menghargai imam dan pekerjaan yang dilakukannya sehingga imam merasa dicintai umat sebagai keseluruhan, termasuk di dalamnya ikut mengembangkan panggilan untuk menjadi imam di antara anak-anak dalam keluarganya. Kalau memang imamat berharga, tentu keluarga akan ikut mendorong tumbuhnya panggilan dalam keluarga atau pada anak-anak atau merelakan dan mendukung anaknya kalau mereka ingin menjadi imam.

d. Mengerti bahwa imam adalah sepenuhnya manusia seperti juga para awam yang bisa capek, yang kadang bisa sakit, perlu disapa dan diajak bicara, memiliki kelemahan-kelemahan tertentu di samping kemampuan-kemampuan tertentu.

3. Apakah bisa seorang Pastor pindah kongergasi, misalnya dari SJ ke Pr?

Perlu diperhatikan bahwa SJ bukan kongergasi, tetapi sebuah Ordo. Tidak semua pastor bisa pindah status dari imam religius (SJ, OSC, SSCC, OMI dsb) ke imam praja (Pr). Ada pastor religius (dari kongergasi/ordo tertentu) yang bisa pindah menjadi pastor praja kalau ada uskup yang bersedia menerimanya sebagai pastor praja. Jadi ada yang bisa, ada yang tidak, dan itu tergantung apa ada uskup yang mau menerima dia sebagai pastor di keuskupannya. Apakah seorang uskup mau menerima seorang mantan pastor religius sebagai imam diosesnya tergantung antara lain pada faktor apa yang menyebabkan pastor itu tidak bertahan sebagai pastor religius tertentu maupun pada kebutuhan dan apa dampak pastoral yang ditimbulkan nantinya kalau uskup menerima mantan pastor religius itu.

 

rm edi (www.santamaria.or.id)

Basilika Kerahiman Ilahi di Krakow-Lagiewniki, yang sempat dikonsekrasikan oleh Beato JP II. Di Lagiewniki St. Faustina meninggal dunia.

 

Mari kita mendukung Paus Fransiskus dengan banyak berdoa Rosari, sebab saat ini Sri Paus tengah menanggung Salib karena banyak orang hendak menyudutkan beliau dengan menulis hal-hal yang menyesatkan dan ingin merusak kesatuan umat beriman di bawah kepemimpinan Bapa Suci, Wakil Kristus di dunia. Semoga Tuhan mengasihani Paus Fransiskus dan Roh Kudus melindungi seluruh umat beriman.
(FB : Sherley H. Mandelli )

 


 

Mgr Subianto tahbiskan gereja tujuh gunungan atap yang pernah bermasalah. Karena rahmat Kristus, cinta kasih Allah, berkat karunia Roh Kudus, dan bantuan umat beriman di tempat lain, umat beriman Cikampek membangun gereja, bagaikan di padang gurun.
(courtesy :  " penakatolik com")