Dubes Vatikan resmikan Katedral Tiga Raja Timika

Dubes Vatikan resmikan Katedral Tiga Raja Timika

Sekitar lima puluh ribu umat Katolik, biarawan dan biarawati serta pejabat daerah setempat mengikuti acara peresmian Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Kamis 7 Oktober.

Mgr Girelli memimpin perayaan Ekaristi didampingi oleh Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar OFM dan Uskup Timika Mgr Yohanes Philipus Saklil dan 7 uskup lainnya.

Dalam kotbahnya, Mgr Leo Laba Ladjar berharap agar kehadiran katedral yang megah ini, yang merupakan simbol kehadiran Kerajaan Allah di tanah Papua, membawa perubahan bagi warga Papua.

“Saya berharap umat Katolik dapat mengubah kebiasaan adat yang tidak baik, dari kebiasaan perang adat yang terjadi setiap tahun di Kota Timika menuju kebiasaan adat Katolik dengan rajin berbuat baik serta banyak berdoa.”

Tokoh Masyarakat Suku Amungme, Yoseph Yopi Kilangin, mengatakan, umat Katolik di keuskupan ini sangat gembira dengan peresmian gereja mereka.

“Saya sebagai tokoh umat Suku Amungme merasa bangga dan gembira atas diresmikan gereja ini sebab selama lima tahun kami sudah berjuang untuk membangun dengan mengumpulkan dana secara swadaya dari umat di tingkat komunitas basis hingga paroki,” jelasnya.

Uskup Saklil mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu pembangunan gereja tersebut.

“Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika, lembaga adat, sponsor, serta umat yang dengan rela mengumpulkan dana selama lima tahun untuk pembangunan katedral,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pembangunan gereja tersebut menelan 25 miliar rupiah yang terkumpul baik dari sponsor maupun partisipasi umat.

“Saya mengucapkan syukur dan terima kasih atas peresmian Gereja Katedral Tiga Raja ini,” kata Bupati Mimika, Klemen Tinal. ”Mari kita sama-sama membangunan iman umat serta bekerja sama dalam membangunan untuk menuju ke arah yang lebih maju.”

Wakil Gubernur Propinsi Papua, Alex Hesegem, meminta maaf atas ketidakhadiran Gubernur Propinsi Papua, Barnabas Suebu dan Gubernur Propinsi Papua Barat karena mereka mengunjungi lokasi banjir bandan di Wasior.

“Pemerintah Propinsi Papua mengucapkan selamat atas peresmian Gereja Katedral Tiga Raja Timika. Dengan peristiwa ini mari kita sama-sama memberikan kedamaian di Tanah Papua ke depan,” jelasnya.

Para uskup yang hadir pada upacara peresmian gereja baru tersebut antara lain Uskup Agung Manado Mgr. Jos Suwatan MSC, Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Pitakotta, Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang, Uskup Banjarmasin Mgr Petrus Timang, Uskup Agats Mgr Aloysius Moerwito OFM, Uskup Sorong Mgr Datus Lega, serta Uskup Amboina Mgr Petrus Mandagi MSC.

Markus Makur, Timika. cathinewsindonesia

0
Your rating: None

Comments

Peran Geraja ditempat lain

1299396671934089507

Peran Geraja ditempat lain tidak sama dengan Papua, khususnya daerah Timika dalam skala operasi Tambang Raksasa PT. Freeport tidak luput dari jarahan modal. Pelayanan kemerdekaan semestinya diberikan kepada umat manusia tatkala mati suri diterjang serbuan kompeni emas dari ufuk barat. Kemegahan Gereja berdiri diatas tanah penghasil emas dan tembaga tak sebanding kemegahan jati diri anak Papua yang rapuh dari bedil imperialis Freeport. Dimanakah Gereja ( Katolik ) di tengah penduduk Timika diterjang lumpur Freeport mengeringkan segala aset mata pencaharianya? Oh, budaya tutup mulut yang lazim menjadi praktek kotor para pemodal, tak luput menodai nahkoda umat kristiani. Ada dugaan bantuan Freeport miliaran rupiah atas pembangunan Geraja Katedral di Timika.

Seperti yang diberitakan wartawan Jubi” Willem Bobii”, puluhan ribu umat Katolik Keuskupan Timika, Kamis, (7/10) menghadiri misa konsekrasi peresmian Gereja Katedral Tiga Raja Keuskupan Timika. Misa konsekrasi dipimpin Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Leopoldo Girelli. Misa berlangsung lancar. Tamu dan undangan membludak hingga diluar gereja. Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Jhon Philip Saklil dalam sambutannya mengucap syukur atas peresmian Gereja Katedral Tiga Raja. ”Terima kasih atas bantuan, dukungan dan partisipasi dari semua umat baik perorang maupun kelompok,” ucap Uskup Saklil. Pembangunan Gereja Katedral Tiga Raja Timika dipersiapkan sejak 5 tahun silam (sejak 2005). Gereja yang bisa menampung hingga ribuan umat katholik itu berdiri megah dengan arsitektur yang memadukan khas Papua dan modern. Peresmian Gereja Katedral Tiga Raja dihadiri wakil Gubernur Papua Alex Hesegem bersama rombongannya, sejumlah Bupati di Papua serta Anggota Legislatif Mimika.

Sejarah Gereja di Timika tidak berfungsi sama sekali, terutama dalam menyatakan kebenaran atas ketidakadilan yang terjadi. Sejak Uskup Monig Hof mencatat ada 100 penduduk sipil terbunuh akibat operasi PT. Freeport, kepergian sang uskup yang dipindahkan kemudian membawa angin segar bagi Freeport untuk menggenggam uskup tidak kritis. Embel-embel bantuan berkedok keagamaan, Freeport berhasil menggusur ideologi kritis yang melekat pada institusi gereja ” Katolik”. Iya, temuan keuskupan di era uskup moning Hoof tidak ada hasilnya sampai sekarang. Malah di kubur rapat-rapat oleh penerusnya sekarang. Cerita punya cerita, patut di duga bahwa keterlibatan Gereja di tengah kekangan modal Freeport tidak bisa dihindari. Kehadiran Freeport yang begitu dominan mampu melumpuhkan dinamika keorganisasian katolik yang progresfi membela rakyat tertindas.

Gereja Freeport Sebagai Imbalan Pengalihan Isu Penyelesaian Masalah Papua Secara Sistematis

Konsekwensi keimanan dipertaruhkan dalam roda keagungan ekonomi dunia. Sayembara berbaju agama bukan hal baru. Penemu gunung grasberg sekarang adalah tokoh agama. Misi katolik awalnya di pegunungan tembaga pun berakhir dengan restorasi freeport yang begitu rakus dan serakah. Apa mimpi pastor mendatangkan tambang?. Apa mimpi keyakinan agam dengan kejayaan imperialis?. Nyatalah, idiom Gold-Gospel-Glory. Perjuangan panjang kehadiran agama hanya sebagai amunisi sulap ala Tuhan demi penjarahan kekayaan alam seharusnya di tiadakan. Prinsip pembebasan umat manusia dari tira penindasan apapun harus di angkat.

Kini giliran Gereja Katolik yang mendapat tempat yang layak dari Freeport. Setelah sebelumnya Gereja Baptis di Kwamki Baru malah pendetanya dipenjara. Kasus penembakan di ridscam tahun 2001 menjadi misteri. Sekarang misteri penembakan sudah terurai. Pdt. Isak Onawame, satu pejuang jemaat yang kritis atas kejahatan Freeport. Kini Pendeta Isak dibungkam dengan tudingan penembakan di mile 74 Freeport silam. Tidak saja di bungkam, fasilitas gereja baptis  tidak semewah gereja Katedral yang baru diresmikan. oh, persaingan uang dengan semboyan surga. Padahal, neraka jahanam Freeport semakin sulit di bongkar. Peran Gereja harus diperkuat, jauhkan Gereja dari intervensi apapun.

Umat katolik di NTT dan Timor Leste begitu progresif mengecam penindasan oleh siapapun. Anehnya, Gereja Katolik di Timika malah melarikan diri berdiskusi masalah mabuk-mabukan sehingga menjauhkan diri dari sumber masalah sebernarnya. Freeport sumber masalah rakyat atau umat manusia, baik di Timika maupun Papua seluruhnya. Kenapa didiamkan? Apa yang salah sehingga Freeport tidak diangkat kaum gereja. Apakah persoalan takut sebagai penyebab para uskup tutup mulut

Problem surga dan neraka di daerah konflik “koloni” seperti Papua dan tempat lain, keterlibatan para pastor maupun pendeta dan lainya, hanyalah mengaburkan masalah. Visi Allah dan Visi politis menjadi satu paket yang diangkat. Negara-negara merdeka, contohnya para pelayan jemaat di Indonesia ( Jawa/Bali), saya salut karena sebagain pendeta atau pastor berperan sesuai misi Alkitab oleh Allah yang dianjurkan. Tetapi daerah koloni di Papua, isu Papua merdeka jadi satu paket dengan misi Agama. Jadilah praktek kotor dalam politik praktis dianggap hal biasa dalam urusan pengembalaan jemaat. Orang di Papua bikin gereja untuk kumpulkan umat sebanyak mungkin untuk bisa dijadikan kendaraan suksesi jabatan tertentu. Papua oh Papua….

Kemegahan Gereja bukan hal gampang. Apalagi gereja mewah yang dibangun dalam waktu singkat. Ditempat terpencil lainya, gereja semewah di Timika, dibangun puluhan tahun baru jadi. Tidak heran jika keberanian pesulap Freeport dengan dukungan dana yang begitu besar ( embel-embel sumbangan ). Hasil sulap dapat diduga penyebab utama pelemahan organisasi umat kristiani di Timika diam seribu kata terhadap freeport. Mesin pembunuh orang Papua “FREEPORT”. Semuanya dibungkam dengan berbagai cara dan rayuan gombal semata. Sejalan dengan pengebirian kasus Freeport, sejumlah Uskup yang bercokol dalam isu Papua punya watak yang tidak jauh beda. Simak saja, draft dialog Papua dengan Jakarta yang didesain pun tidak jauh beda. Kalau di Timika, Uskup sibuk bicara masalah mabuk ( alkohol ), kancah nasional juga didesain serupa. Problem otsus, pemekaran, birokrasi negara menjadi onani intelektual yang didengungkan tanpa akar masalah yang harus diangkat. Pengeberian kasus Freeport di kancah nasional sangat di sayangkan. Sejalan dengan struktural gereja yang ketat dan otonom, dimamika mengalihkan isu Papua dari sasaran sebenarnya sudah nyata sekarang. Bahwa hadiah pembangunan Gereja di Timika sebagai bukti yang patut diduga bahwa selama suara-suara kenabian di bungkam, sampai kapanpun persoalan Papua yang diangkat kaum kenabian hanyalah ilusi intelektualitas. Stop!

 

sumber : kompasiana.com

Temui biarawati Indonesia di Timor Leste

Xanana Gusmao Ajak Presiden Jokowi Temui Biarawati Indonesia di Timor Leste

Seusai melakukan kunjungan ke Taman Makam Pahlawan Matinero, Dili,Timor Leste, Presiden Joko Widodo (Jokowi) diajak oleh mantan Presiden dan Perdana Menteri (PM) Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) Xanana Gusmao untuk mengunjungi biarawati di Timor Leste, Selasa (26/1) sekitar pukul 17.34 waktu setempat.

Dalam kunjungan singkatnya ke sekolah biarawati tersebut, salah satu biarawati, yang ternyata merupakan adik dari mantan menteri di era Presiden ke-2 Republik Indonesia, Moerdiono, menyampaikan rasa terima kasih atas kedatangan Presiden Jokowi. “Maturnuwun sanget Bapak sampun pirso tindak,” ungkapnya dalam bahasa Jawa.

Presiden Jokowi sambil tersenyum menyampaikan terima kasih kepada para biarawati yang telah menemuinya. Di sela-sela kunjungan, Xanana Gusmao juga menceritakan bahwa para biarawati tersebut telah tinggal di Timor Leste selama 22 tahun. Usia tertua dari salah seorang biarawati tersebut adalah 78 tahun.

Sebelumnya, Presiden Jokowi juga meletakkan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan Matinero. Prosesi upacara peletakan karangan bunga ini, didahului dengan lagu Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Timor Leste. Setelah mengikuti acara di TMP Matinero, Presiden Jokowi langsung menuju ke TMP Seroja dan KBRI Timor Leste.

(EN/ES)

pk

comment/posting pls mailto : parokiku@gmail com


Retret Koord PDPKK se KAJ 11-12 feb 2017 (courtesy:fb. rafaela ab.)

 

MOHON DOANYA BAGI KAMI, SEMOGA KAMI TETAP SETIA....DALAM TUGAS DAN PANGGILAN DAN SEMOGA BANYAK GENERASI MUDA TERPANGGIL UNTUK BEKERJA DI LADANG TUHAN.TERIMA KASIH UNTUK DOANYA N HORASSSSS
pk

pk

 

 

 
ViaViente

Minuman kesehatan untuk
mengatasi penyakit degeneratif
seperti stroke, diabetes,
asam urat, jantung dll.


usahamandiri.viaviente.com

 

 ------------------------------------------------ pk