Dalam setiap gerakan, compassion itu selalu menyertai

herman02's picture
Testimoni retret 9-17 Sept 2010 (6):

“Dalam setiap gerakan, compassion itu selalu menyertai”

Saudari SM, 22 tahun, Buddhist, graphic designer, peserta MMD.
=======

Seminggu telah berlalu semenjak aku mengikuti retret meditasi. Aku mulai memasuki kehidupan nyata dan menjalani meditasi yang bisa dikatakan agak berbeda dengan latihan yang kulakukan. Inilah meditasi yang sebenarnya, meditasi kehidupan.

Pengalaman selama 9 hari ini telah menjadi sebuah memori yang tak cukup kudeskripsikan dengan kata-kata. Berbagai kejadian mulai dari yang tidak enak, netral, hingga menakjubkan kurasakan selama meditasi. Kesadaran datang secara refleks menyurutkan semua gerak batin yang sedang berlangsung. Kemunculannya secepat kepergiannya, tak mengenal jarak, dan selalu melibatkan si ego ketika pikiran menyentuh keberadaannya. Lalu aku dengan cepat larut dalam keheningan.

Sebuah pengalaman yang menghiasi hidup bagai melintasi padang gurun. Ia bisa menaklukkan kehidupan dan menyesatkan arah. Sang petualang terus mencari jalan dan tempat tujuan untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka. Sebuah kepuasan abstrak dan tak berujung. Itulah kehidupan sebagian besar orang di dunia.

Kita seringkali merasa tidak bahagia dalam hidup. Kecenderungan orang memiliki rasa ketidakpuasan dan mencari pelarian-pelarian untuk melupakan masalah mereka. Masalah mereka menjadi bertumpuk-tumpuk hingga tak terbendung lagi, tanpa pernah sedikitpun kita mau menyisihkan waktu sejenak untuk diam dan memahami diri sendiri. Kita seakan pura-pura tidak mengetahui segala ego yang timbul dan menjadi bayang-bayang kehidupan, kemudian menjadi sebuah lingkaran yang menyesatkan. Kita tidak dapat melihat dengan jernih dan menerima apa adanya. Kita selalu meminta lebih dan tidak pernah puas.

Salah satu diskusi dengan Romo Sudrijanta, pembimbing meditasi kami, yang sangat kuingat adalah ketika pembicaraan mengenai egoisme meditasi muncul ke permukaan.

”Lalu, apakah dengan menyendiri selama 9 hari dapat dikatakan egois, melarikan diri lalu melupakan masalah yang ada? Tentu saja tidak.Justru inilah lapangan yang disediakan untuk kita agar belajar memahami diri sendiri apa adanya. Memahami diri sendiri adalah melihat fakta apa adanya dengan tanpa daya upaya, melihat tanpa jarak, apapun yang muncul melalui pikiran. Inilah yang dinamakan transedensi diri. Setelah seseorang mengalami runtuhnya si aku dan pikiran, maka keadaan survival dengan sendirinya muncul mengimbangi hidup.”

Memahami diri dalam diam, inilah yang menjadi alasanku untuk pergi. Memasuki keadaan meditative, alasan ini lenyap secara otomatis ketika kesadaran mulai bergerak.

Hari-hari pertama aku memulai latihan, terasa seperti aliran sungai yang sangat deras, membawa serta semua kotoran-kotoran ke hilir. Rangkaian kejadian yang baru saja kualami dengan sendirinya muncul dan lenyap. Kesadaran pasif masih tercampur oleh si aku yang sedang mengamati. Hanya jika si aku ini benar-benar berhenti, pikiran itu berhenti total dengan sendirinya.

Hari keempat hingga hari-hari berikutnya aku mulai memasuki keadaan hening yang cukup konstan. Keadaan ini seperti berada dalam sebuah danau yang tenang, tanpa aliran air dan riak yang deras. Berawal dari kehadiran sebuah fenomena energi mahaluas yang terjadi selama beberapa detik setelah perubahan kesadaran muncul ke permukaan. Beberapa detik batin ini diam, larut dalam cahaya terang tak terdefiniskan dengan energi luar biasa besar. Sebuah cahaya kehidupan dalam energi tak terbatas yang menyimpan seluruh energi alam kehidupan. Sebuah cahaya yang juga menjadi gerbang tanpa gerbang sebelum batin benar-benar diam.

Aku terus mengamati cahaya itu hingga redup.

Aku benar-benar merasakan compassion yang luar biasa, menyatu dengan keheningan bagai koin dengan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Dalam setiap gerakan, compassion itu selalu menyertai.

Sejak itu, aku memasuki sebuah keheningan konstan yang berlangsung cukup lama. Pikiran ini untuk beberapa lama berhenti dan membuatku hidup apa adanya di saat ini. Sebuah perubahan mendasar aku rasakan ketika melakukan meditasi jalan. Langkah kaki ini begitu stabil tanpa ada si pengontrol, ia begitu bebas, dan berhenti ketika kesadaran ini berhenti.

Aku terus mengamati semua fenomena sebagai proses batin. Masih ada gerak si aku yang halus ketika keheningan konstan itu kurasakan. Hanya ketika semua berhenti secara total, maka si aku pun ikut berhenti.

Kusadari pengalaman ini menjadi sebuah proses batin, sebuah proses pembelajaran untuk terus disadari, bukan untuk dilekati. Ia bebas datang dan pergi kapan saja. Ia bisa saja berbalik menjadi senjata berbahaya jika tidak kita waspadai. Seseorang bahkan dapat menjadi sangat obsesif dalam mengejar pengalaman-pengalaman mistikal yang sesungguhnya tidak dapat kita kejar, menjerat seseorang untuk tidak memahami arti meditasi itu sendiri.

Terima kasih banyak untuk Romo Sudrijanta yang sudah sangat berbaik hati membimbing kami, membawa kami untuk melihat apa adanya, bahkan ketika kesehatan Romo sedang tidak fit. Semangat ini akan selalu menyertai dengan segala perjuangan yang telah Romo berikan kepada kami. Salam sejahtera dalam kasih.*

0
Your rating: None

Basilika Kerahiman Ilahi di Krakow-Lagiewniki, yang sempat dikonsekrasikan oleh Beato JP II. Di Lagiewniki St. Faustina meninggal dunia.

 

Kami yang ditandai Salib -  (Parokik Santo Ignatius Cimahi)