Berpastoral Secara Profesional Berdasarkan Data

herman02's picture

Berpastoral Secara Profesional Berdasarkan Data

Sejak Kunjungan Bapak Kardinal di paroki-paroki KAJ tahun 2009 lalu, ungkapan “Pastoral Berbasis Data” mengemuka dalam berbagai pertemuan di KAJ. Begitu penting dan strategisnya hal tersebut, hingga dalam Pastores (pertemuan para pastor) se-KAJ di Aula Katedral (8/2/2010), para pastor belajar bersama tentang pastoral berbasis data Bersama narasumber Pst. S. Gitowiratmo Pr dan Pst. F.A. Purwanto, SCJ, fasilitator Pusat Pastoral Yogyakarta (PPY).

 

Bukan Hal yang Sulit
Menurut Pst. Gitowiratmo, pastoral berbasis data bukanlah sesuatu yang sulit, namun hanya masalah mindset. Kendalanya selama ini masih ada setup dalam cara berpikir para pastor bahwa segala sesuatu bisa dihadapi tanpa data. “Padahal, kemajuan dunia perlu diikuti dengan peningkatan pelayanan pastoral, dan untuk itu membutuhkan data. Ini soal kinerja kita,” jelas Pst. Gito.

Berpastoral berbasis data memiliki makna bahwa dalam berpastoral, kita harus selalu memahami data situasi umat, baik karakteristiknya, kebutuhannya, maupun tantangan yang mereka hadapi. Praktik pelayanan pastoral yang tidak memperhatikan data situasi umat mirip “pedagang asongan”. “Misalnya, seorang imam, ditugaskan di manapun selalu menawarkan program pastoral yang sama, tidak memperhatikan situasi umat. Padahal setiap mengawali tugas pastoral di tempat baru, seharusnya setiap imam selalu mulai dengan mengenali situasi pokok, melakukan refleksi teologis-pastoral terhadap situasi itu, kemudian dilanjutkan dengan tahap-tahap berikutnya sesuai Spiral Teologi Pastoral,” jelas Pst. Gito.

Berpastoral: Panggilan yang Profesional
Pst. Gito juga mengajak para imam peserta Pastores mencermati buku Etika Pastoral karya Richard M. Gula (2009). Dalam buku tersebut, Richard M. Gula membuka pertanyaan kritis: apa makna tahbisan imamat dan pelayanan berpastoral bagi para imam? Apakah merupakan panggilan saja atau profesi juga?

Bagi banyak pihak, imamat bukan profesi melainkan panggilan, karena panggilan itulah urus-an imam bukan melulu persoalan pekerjaan, melainkan hidup panggilan di mana Tuhan menya-takan diri di dalamnya, menanggapi Allah yang sedang hadir dalam jemaat-Nya.

Namun, menurut Pst. Gito, Richard M. Gula berpendapat bahwa profesi bukan sekadar pekerjaan, tapi kehadiran kita sebagai tanda kehadiran Tuhan di te-ngah komunitas yang menuntut kita semakin profesional dalam melaksanakan panggilan hidup kita. “Maka, selain menjadi pengusaha atau penulis buku, menjadi imam pun bisa profesional. Tidak perlu lagi kita mempertentangkan antara panggil-an dan profesi,” jelas Pst. Gito.

Salah satu indikasi menjalankan panggilan imamat dalam karya pastoral yang profesional adalah berkarya berdasarkan data dan Metode Dinamika Pastoral, agar berpastoral secara bertanggung jawab. “Tahun Imam (Juni 2009 s.d. Juli 2010) bisa dijadikan kesempatan bagus untuk membangun komitmen pelayanan profesional, dalam bingkai mana pastoral berbasis data menjadi penting,” jelasnya.

[Felix Iwan Wijayanto] kaj.or.id

terkait :
Data Statistik Umat

 

0
Your rating: None

Comments

Berpastoral Berbasis Data ?

Keuskupan Bandung Sudah Siap Berpastoral Berbasis Data ?

Pengantar :

Tanggal 18-19 Des 2010 kemarin komisi-komisi diundang untuk belajar berpastoral berbasis data dari Romo St. Gitowiratno dan Romo Francis Purwanto SCJ dari Tim Data Keuskupan Agung Semarang. Kedua romo tersebut adalah dosen teologi dogmatik yang mengembangkan pastoral berbasis data dan sudah banyak memberi training dan penelitian antara lain di Semarang, Palembang, dan Jakarta.

Berikut ini penjelasan Rm. Gito :

1.        Pastoral berbasis data ini barang baru dalam gereja beberapa tahun terakhir ini. Lama sekali pastoral itu cura animarum artinya merawat jiwa-jiwa. Tentu saja artinya agak sempit. Pastoral dari kata dasar pastor atau yang masuk hirarki maka pastoral dikaitkan dengan fungsi-fungsi hirarki dan berpusat pada pastor. Apapun yang dilakukan pastor itu adalah pastoral, misa sampai mancing. Orang mulai tidak percaya lagi pada pastoral yang menyangkut kepentingan internal gereja saja. Hirarko-centrik dan fokus internal menjadikan pastoral makin problematik. Pastoral adalah impian dan fokus sang pastoranya. Pastor bicara habis perkara. Umat surga nunut neraka katut. Kalau pastor kreatif umatnya terengah-engah. Kalau pastornya tidak punya ide ya buntu.Kalau pastor pemarah umat diam. Kalau pastor agak sinting umat gelisah. Jadi sangat tergantung pastornya. Pastoral terlalu terpusat pada seseorang pastor. Iklimnya single fighter. Pastornya sangat capek ngurusin gereja bocor, melayani yang sakit, dan sebagainya sampai tidak sempat memikirkan dirinya sendiri. Tidak jelas lagi sedang apa mau ke mana. Banyak pastor mati muda akhirnya. Umatnya sendiri merasa belum cukup dilayani. Suasana dalam gereja menjadi cenderung stagnan, dingin, dan jeleknya jadi melempem. Hal ini terjadi dalam gereja barat asal para misionaris zaman dulu.

2.       Sesudah Konsili Vatikan II mulai ada terobosan di Eropa Barat, misalnya Jan Hendriks dari Belanda, seorang sosiolog yang belajar teologi, dan bukunya diterjemahkan Romo Heselaars (lihat buku Membangun Gereja Yang Vital dan Menarik). Isinya bagaimana mengelola suatu jemaat dengan tata kelola yang baik, bukan hanya tergantung sang pastor. Roh Kudus bekerja lewat manusia. Roh Kudus dalam berteologi juga meminjam pikiran manusia. Roh Kudus juga tidak single fighter, melainkan menggunakan sejumlah manusia dan sistem untuk kepentingan pastoral. Jan Hendriks didukung juga oleh berbagai orang lain misalnya Pastor van Hooijdonk. Pastoral tidak terbatas seorang pastor atau satu disiplin ilmu saja. Dalam Kongres Pastoral di Malang tahun 1994 : kalau ada sedikit hukum gereja, moral, dan akal sehat maka kita bisa masuk wilayah pastoral. Pastoral itu seperti dokter umum, ada sedikit liturgi, moral, kitab suci, hukum, dan sedikit hal-hal lainnya.

3.       Selain yang sedikit-sedikit itu dibutuhkan menjadi multi disiplin atau inter disiplin atau lintas ilmu. Kalau pastoral itu lintas ilmu, maka tidak mungkin lagi pelayanan gereja atau umat beriman hanya dari satu displin ilmu saja. Jan Hendriks menggabung sosiologi dan teologi. Ada 5 faktor untuk membangun jemaat yang vital dan menarik : kepemimpinan, iklim, tujuan, struktur, dan identitas. Maka kalau bicara kepemimpinan harus melihat pengertian kepemimpinan dalam arti luas termasuk di masyarakat. Sekarang orang misalnya bicara output dan outcome dalam gereja yang istilahnya berasal dari  dunia ekonomi misalnya. Membuat visi, misi, strategi, tujuan, indikator, dll itu bukan berasal dari gereja. Dulu pastor itu omnipoten, maha kuasa, sekarang bisa jadi impoten, dan tidak mungkin lagi menguasai banyak hal. Pastoral tidak lagi tergantung pada seseorang karena harus menyangkut networking atau jejaring. Itulah konsekuensi pastoral lintas ilmu. Semakin seseorang ahli dalam hal tertentu, semakin membutuhkan jejaring orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Dibutuhkan sinergi. Dulu dibutuhkan statuta dan konstitusi yang sudah ditentukan dari atas dan semua tergantung apa kata pimpinan. Sekarang dirumuskan visi misi bersama.

4.       Tata kelola baru di banyak keuskupan antara lain adalah pastoral berbasis data. Vatikan II yang membawa aliran lintas ilmu menyatakan gereja itu ad intra dan ad extra. Bukan hanya Lumen Gentium namun juga Gaudium et Spes. Gereja menjadi seluas dunia, tidak hanya liturgi dan internal gereja, melainkan menyangkut pembangunan hidup manusia dari berbagai aspek. Maka terbentuklah berbagai komisi di Roma, di KWI, di keuskupan, sampai ke paroki-paroki, yang tidak semuanya menyangkut kepentingan internal gereja. Faham gereja seiring dengan pemahaman manusia. Masalah-masalah manusia pada umumnya berdampak pada kehidupan gereja.

5.       Ketika umat mulai malas ke gereja misalnya artinya ada sejumlah faktor yang menjadi penyebabnya yang harus digali dan dipelajari. Suatu gejala  berkaitan dengan berbagai masalah. Maka diperlukan diagnosa untuk mencari dan memecahkan berbagai masalah yang muncul. Satu gejala belum tentu satu penyebab.Kepala sakit bukan karena kehujanan, tapi bisa karena banyak hutang belum terbayar. Itulah awal pastoral berbasis data yang mau mencari berbagai data dan mengolahnya agar bisa mencari solusi terbaik untuk gejala tertentu.

6.       DI Keuskupan Michigan di Amerika misalnya ada Parish Evaluation Project  yang dipimpin Thomas Sweetser SJ yang melakukan berbagai penelitian, misalnya jam berapa yang cocok untuk misa minggu. Berbagai penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data.

7.       Maka pastoral sekarang itu tidak sederhana lagi. Pastoral tidak boleh ketinggalan kereta. Pastoral itu lintas ilmu dengan mencari dan mengolah data secara lebih luas dan mendalam agar menemukan jawaban pastoral yang lebih tepat. Pastoral cura animarum sekarang menjadi pastoral yang bercirikan pembangunan, bukan hanya pemeliharaan. Harus ke pengembangan dan pemberdayaan. Lingkup  pastoral menjadi lebih luas. Agaknya kebanyakan keuskupan sudah on the track. Tinggal melihat bahan bakarnya apa cukup, masinisnya ok, keretanya sudah ok. Pastor dan awam misalnya sudah bersinergi. Pastoral itu dari jemaat untuk jemaat. Pastor tidak di atas, di luar, tapi di dalam dan bersama jemaat. Pastoral menjadi karya gereja, bukan karya pastor pribadi. Seharusnya tidak ada lagi refren “zaman pastor itu”. Sekarang ini dibangun corporate culture  yang ditandai nilai-nilai komunitas yang diperjuangkan bersama dan membuat semua bersatu. Keretanya harus searah antara roda,masinis, dan berbagai komponen lainnya. Corporate culture itu bisa terwujud kalau ada visi dan misi bersama. Semua dewan misalnya harus berintegrasi menjadi satu. DKP adalah kelompok strategis dan pembaharu  untuk menjalankan kereta api keuskupan yang akan memancing gerak seluruh keuskupan. Maka yang resisten akan ikut hanyut. Pastoral berbasis data itu suatu keinginan yang tidak mudah. Senang karena baru. Waswas karena titik awal dari konsekuensi yang panjang. Apakah kita punya energi yang cukup untuk sampai pada konsekuensi yang panjang. Begitu pastoral berbasis data menjadi gerakan, maka mind set kita harus berubah. Kalau tidak maka kereta tidak akan maju. Arah kereta itu harus diputuskan. Pastoral berbasis data itu jangan hanya sekedar wacana yang akan melelahkan dan membosankan. Pastoral berbasis data itu harus suatu  keputusan yang besar dan serius. KAS baru memutuskan sejak 13 November 2010 yang lalu dibentuknya  tim data KAS dan mendirikan pusat pastoral berbasis data yang harus mengumpulkan data keuskupan.  Sudah ada penelitian dengan 10 paroki kota di KAS dan menemukan berbagai data yang isinya menarik untuk dipelajari. Dari 90 paroki di KAS ada 30 % di kota dan 70 % di desa. Kami juga harus belajar statistik, metode kuantitatif, dsb. Keputusan berpastoral berbasis data membuat kita tidak bisa berhenti. Apakah punya energi yang cukup ? Akhirnya akan merembet ke pastoral yang bertanggung jawab yang menganut asas akuntabel dan transparansi. Pastoral siap diaudit internal, eksternal, termasuk keuangannya. Di Bandung mulai dengan supervisi seperti di KAS. Dampaknya akan besar. Pastoral berbasis data juga akan membawa orang pada perumusan job description termasuk komisi, pastor paroki, program kerja, evaluasi, dan seterusnya. Pertanyaan serius : sanggupkah kita berubah ? Efek bola saljunya sangat panjang kalau mau memulai pastoral berbasis data. Di Palembang mulai ada gerakan pastoral berbasis data. Atambua juga sudah mulai. Apakah Keuskupan Bandung sungguh siap dengan segala konsekuensinya ?

8.       Data itu apa ? Data adalah hutanrimba dengan macam-macam pohon, kayu, rumput, binatang, dan semuanya adalah data. Kalau ke hutan mau mencari kayu apa ? Data bisa bersifat umum. Namun ada data yang bersifat khusus yaitu mengidentifikasi apa yang akan kita cari. Maka ada data spesifik. Rimba maupun kayu disebut juga data. Tergantung apa yang akan kita cari dan ketahui. Data bisa kita cari sendiri. Bisa sudah dicari orang lain berupa data sekunder. Ada data angka, jumlah, non angka, misalnya pendapat, trend, kecenderungan. Data itu banyak arti. Kitalah yang harus memilih,mengklasifikasi, dan menentukan apa yang kita cari. Berbagai pemetaan sosial, kultural, termasuk sejarah, pemahaman iman, perkembangan teologi, dan berbagai pemetaan lainnya termasuk data. Maka data itu sangat luas sekali. Banyak data juga sudah dikumpulkan oleh berbagai pihak.  Berbasis data itu artinya menegaskan bahwa pastoral itu tidak berdasar asumsi, kira-kira, hobby, minat,melainkan atas dasar fakta. Pastoral berbasis data menjadi sesuatu yang berangkat dari tuntutan profesional, bukan karena frustasi. Data juga ditentukan tujuan dari sponsor yang membutuhkan data tersebut. Maka data yang dicari keuskupan misalnya adalah untuk kepentingan pastoral.  Kepentingan pastoral dengan kepentingan akademis atau komersial bisa berbeda. Maka kepentingan dan tujuan pencarian data ditentukan siapa sponsor penelitiannya. Harus jelas siapa pimpinannya.

9.       Pastoral berbasis data itu apa harus top down ? Tidak usah kalau kita mau bergerak dulu dari mana saja dan oleh siapa saja sebagai rintisan. Artinya bisa dimulai oleh kelompok strategis yang memulai eksperimen berpastoral berbasis data. Ya kalau mau menjadi gerakan yang menyeluruh agar memperoleh kekuatan pijak. Konsekuensinya banyak. Misalnya konsekuensi finansial untuk cari data di satu paroki sampai perlu data Rp. 10 juta untuk 3000 umat paroki Kidul Loji dengan 30 orang tenaga pencari data. Lalu perlu penggerak yang cukup banyak dan mampu. Kalau satu paroki ada 120 lingkungan dibutuhkan banyak petugas lapangan. Sebagai keuskupan apakah siap juga dengan tenaga-tenaga imam dan awam yang profesional untuk berpastoral berbasis data ? Kalau belum diputuskan sebagai gerakan secara top down, apakah kita sendiri sudah yakin sungguh-sungguh ? Sekurang-kurangnya secara metodologis belajar menjadi profesional ? Apakah para pelaku pastoral sudah yakin bahwa pastoral berbasis data adalah alternatif agar pastoral kita bertanggung jawab ? Teologi dan gereja harus mau bekerja sama dengan manajemen profesional kalau mau membangun pastoral berbasis data. Semoga direstui Roh Kudus.

10.   Perubahan mind set : penting belajar sistem monitoring dan evaluasi untuk bisa mengubah mind set. Kita harus belajar kritis terhadap apa yang terjadi, apa yang kita lakukan. Monitoring dan evaluasi pastoral harus dimasukkan ke dalam sistem. Maka kita akan diajak untuk mengevaluasi outcome. Apakah kita bekerja berdasarkan sistem  atau baru sekedar berjalan-jalan saja ?  Hanya dalam kondisi abnormal apakah diperlukan perubahan mind set dengan indoktrinasi dan kekerasan dengan otoriter ? Kadang seorang pimpinan harus berani mengambil keputusan tegas kalau memang situasinya mendesak dan genting.

11.   Konsep tentang Pastoral : sebagai komunikasi iman untuk petumbuhan (ad intra), sebagai tindakan bersama dalam Gereja (dinamika hidup Gereja) dengan alam partisipatif, sebagai kerjasama dengan Roh Kudus yang membimbing gereja, sebagai pewartaan kabar gembira Kristus, Pastoral sebagai gerak gereja melayani masyarakat (GS) menjadi gereja yang terbuka dan kontekstual (ad extra)

 

Kerangka dasar operasional  (Jan Hendriks) :

Realitas I (sekarang)   à Planning pastoral yg harus ada  à Realitas II (yg diinginkan)

Jan Hendriks merumuskan teologi atau teori pastoral dari data kenyataan pastoral (induktif). Maka pastoral bukan aplikasi dari teori pastoral yang sudah ditentukan, melainkan berangkat dari data menuju teori. Maka pastoral menjadi suatu pertumbuhan dan perkembangan.

Pastoral berbasis data adalah mencari data Realitas I (kenyataan sekarang) :

1.       Titik tolak kebijakan pastoral.

2.       Kenyataan yang multi dimensi àperlu diteliti dan dianalisis, dipilah-pilah, dikategorisasi  à pemetaan realitas.

3.       Lalu lahirlah tantangan dan keprihatinan pastoral.

Realitas I merupakan kondisi obyektif yang perlu diketahui dan bukan dikira-kira (diasumsikan). Jangan dipakai untuk alasan pemaaf (ya sudahlah memang begitu realitasnya) yang menjadi alasan situasi stagnan. Realitas itu seharusnya diubah  menjadi realitas yang diinginkan.

Realitas I harus dimengerti secara baik dan utuh supaya titik tolak pelayanan pastoralmenjadi jelas. Maka harus dikumpulkan sebanyak mungkin informasi yang diperlukan untuk decision making process mengacu pada data yang diperoleh (bukan praduga atau prakira).

Realitas II adalah realitas yang dicita-citakan (diidealkan) à realitas visioner yang mengandung : kemajuan, perkembangan, perubahan yang ingin dihasilkan, kenyataan impian  dalam kurun waktu tertentu, yang bisa diamati dan diukur minimal menurut indikator yang sudah ditentukan.

Realitas II : orientasi, fokus , arah pelayanan kita, prioritas pencapaian yang kita inginkan, penuntun langkah kita, kontrol efisiensi dan efektifitas karya. Pastoral berorientasi pada proses, dapat diukur tingkat keberhasilannya.

Menurut Jan Hendriks ada lima faktor yang mempengaruhi  jemaat yang vital dan menarik yaitu  identitas, tujuan,iklim, struktur, dan kepemimpinan. Lengkapnya silakan membaca buku Jan Hendriks berjudul Membangun Jemaat yang Vital dan Menarik terbitan Kanisius.

 

Rm. Francis Purwanto SCJ lalu mengajak latihan membaca data Paroki St.Teresia Jambi Keuskupan Palembang :  Data apa saja yang  ditemukan dan  bisa membantu untuk  merumuskan program kerja DPP ?  Ini beberapa catatan dari latihan membaca data tersebut :

1.       Tabel keadaan ekonomi : Indikator keadaan ekonomi itu apa ? Sangat sulit untuk menentukan indikator ekonomi, maka dipilih 3 indikator sambil bertanya untuk apa kita mengumpulkan data ekonomi  ? Maka dipilih teori solidaritas yang menunjukkan bagaimana umat dapat saling membantu. Ukurannya sangat relatif untuk tiap daerah. Wilayah yang lebih perlu dibantu adalah Renha Rosari, Clara, dan Tanjung Jabung, wilayah yang lebih punya kemampuan membantu adalah Theresia Avilla, Yosef, dan Hati Kudus, tidak ada data pekerjaan umat, dan secara total paroki seharusnya bisa mandiri karena lebih banyak kemampuan eknomi menengah dan cukup banyak yang bisa membantu. Jumlah keluarga yang perlu dibantu adalah 8,42 % atau sekitar 130 keluarga. Masih ada pekerjaan rumah untuk PSE. Petugas pencari data diberi bekal untuk melakukan pengisian data dengan pengamatan langsung dan dengan bertanya kepada ketua lingkungan. Jadi tidak bertanya langsung ke keluarga-keluarga.  Keluarga yang perlu dibantu akan diprioritaskan untuk mendapat bantuan dana pendidikan, bantuan kesehatan, bantuan Natal, dan bantuan lainnya. 

2.       Tabel usia perkawinan  : data yang lupa banyak sekali bisa dikembalikan untuk dilengkapi. Usia perkawinan di bawah  10 tahun ada 29,20 % artinya cukup banyak untuk pembinaan keluarga muda. Dari segi ekonomi masih sangat banyak keluarga produktif.

3.       Wilayah Clara : banyak orang Flores (44,76 %), Batak (20,28 %) dan Jawa (20,75 %), banyak lulusan SD (14,45 %), perkawinan yang tidak beres masih cukup banyak (1,63 %) dan dalam krisis berkepanjangan juga banyak (1,40 %). Yang perlu dibantu secara ekonomi juga besar (20,87 %).  Kebanyakan ternyata buruh dan pedagang kecil dari sudut pekerjaan.

4.       Tabel keagamaan : orang Katolik adalah yang sudah dibaptis jumlahnya 5997 orang, namun yang pindah ke non kristen ada 122 orang dan pindah ke kristen 36 orang. Katekumen hanya 23 orang. Yang meninggalkan katolik mungkin karena perkawinan beda agama. Wilayah Bunda Maria paling banyak yang pindah dari Katolik (22+2 orang) dengan latar belakang pendidikan tamat SD (12,26 %) dan tamat SMP (13,09 %), yang perlu membantu ada 11,93 %, orang Flores 34,26 %, yang hanya datang ke gereja ikut misa ada 78,27 %, yang aktif di lingkungan hanya 12,81 %.

5.       Tabel tempat tinggal : orang Katolik jumlahnya 5816 orang (beda data lagi) termasuk yang tinggal di luar paroki (TT, KaPal, Non KaPal) maka didapat jumlah 5476 orang sebagai jumlah warga paroki.

6.       Coba kita perhatikan bahwa dari data-data tsb ada banyak persoalan pastoral yang muncul. Dengan jumlah kepindahan yang cukup tinggi, apakah kegiatan gereja kurang menarik ? Total yang hanya ke gereja 62,14 %, yang aktif di lingkungan 24,23 %. Semakin banyak yang membaca data, maka akan banyak alternatif perhatian pastoral, tinggal menentukan prioritas. Baik kalau ada ahli-ahli yang bisa membaca data.  Secara umum paroki harus lebih memperhatikan wilayah Bunda Maria, Tanjung Jabung, Clara, dan Renha Rosari. Dari sudut lain ada 25,53 % umat yang dapat diberdayakan untuk produktif. Komposisi suku yang banyak Batak, Tionghoa, Jawa, dan Flores. Ekonomi yang mampu orang Tionghoa. Batak pendatang dan banyak tukang kredit. Paling banyak Jawa di Vincentius. Paling banyak Tionghoa di Theresia Avilla, Yosef, dan Hati Kudus. Leadership tidak bisa gaya Jawa. Banyak perkebunan karet dan usaha perdagangan. Mengapa tidak ada rumah abu karena yang Tionghoa 27,85 % ? Batak yang 29,64 % memerlukan rumah adat Batak untuk pesta perkawinan. Di paroki tetangga orang Batak lebih dari 70 %. Mengapa tidak punya mobil ambulans atau mobil jenazah sendiri ?

7.       Teori pastoral adalah teori Gaudium et Spes karena dunia dan gereja terlibat dalam suka dan duka bersama. Bagaimana kita berkontribusi ke kebudayaan-kebudayaan yang ada ? Bagaimana suku-suku berkontribusi untuk gereja ? Bagaimana dengan masalah perkawinan dan pendidikan ? Tujuan cari data : pastoral umum, kesehatan, keluarga, pendidikan, sosial kemasyarakatan. Teorinya pastoral, standarnya dibuat sendiri. Ada perpaduan prinsip demografi, statistik, teologi dogmatik, dan pastoral. Variabel pekerjaan ada ratusan dan bisa dipilih yang sesuai.

8.        Semua data tersebut bisa menjadi dasar usulan-usulan program dan keputusan pastoral. Mencari data termasuk langkah pertama dalam spiral pastoral. Mind set para pastor harus berubah. Sekretariat paroki akan mempunyai fungsi yang lebih luas. Paroki harus punya litbang. By the way data BPS per orang 2 USD. Kalau punya 4000 umat artinya perlu 8000 USD ?

 

Lalu masukan Rm. Francis Purwanto SCJ  mengenai Pendataan Umat :

1.       Harta dalam Bejana Tanah Liat : Warisan para misionaris yang datang dari Eropa (baca Gereja Diaspora), lahir dalam kandungan ibu pertiwi, sekitar revolusi, sekitar 1965-1971, jaman Soeharto hingga kini.

2.       Kekayaan gereja : teologi Kerajaan Allah, umat Allah yang ada sekarang ini, keterlibatan gereja ad intra : pembangunan jemaat,kehidupankerohanian, kehidupan secara kristiani, keluarga, ad extra : karya pendidikan, kesehatan,politik, sosial, kebudayaan.

3.       Tantangan jaman : gereja hidup di dunia modern, dalam budaya tertentu, dalam konteks sosial tertentu, dalam kesatuan dengan gereja Katolik seluruh dunia, dalam konteks 2000 tahun yang akan datang.

4.       Latar belakang : menyusun visi misi paroki : data (analisa) umat yang valid, data (analisa) bertanggungjawab (sosial, ekonomi, politik,budaya, lingkungan, etc), visi misi keuskupan, penegasan bersama umat Allah (demokrasi ala gereja)

5.       Dinamika pastoral : pastoral itu keterlibatan seluruh umat,para gembala, ketua lingkungan, keterlibatan yang lain; dinamika dan keragaman umat, kerinduan umat, kebutuhan tanda-tanda jaman, dialog dengan dunia nyata, tradisi gereja, dinamika sejarah masing-masing paroki, visi masing-masing keuskupan.

6.       Tujuan sensus : memperoleh data-data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan, data demografi, L/P, umur, pekerjaan, pendidikan, pastora, baptis, krisma, katekese,keluarga, kesehatan, sosial, perkawinan, memberi data bagi analisa lanjutan dalam konteks pastoral sebagai usaha bersama (eklesial) untuk mengembangkan iman akan Kristus dan persekutuan.

7.       Manfaat : dinamika umat dipetakan, kebutuhan umat dapat diidentifikasikan, pelayanan bagi umat diharapkan lebih efektif, petugas pastoral diberi data yang jelas untuk melayani umat Allah : pastoral keluarga, pastoral kesehatan, pastoral sosial, pastoral paguyuban.

8.       Pendataan umat secara menyeluruh, dengan metode sensus, pendataan umat demografi, kepentingan pastoral, metode yang dapat dipertanggungjawabkan, data-data bagi  analisa pastoral.

9.       Sensus semua yang sudah dibaptis termasuk katekumen, rumah tangga semuanya (sah,beda agama, beda gereja, tidak beres), yang kost dan asrama.

10.   Ada tim litbang, tim pengumpul data berupa asisten lapangan : datang mengunjungi, mencatat, mengklarifikasi, koreksi setelah ada hasil.

11.   Dibutuhkan ketelitian, kejujuran, kesabaran, ketepatan untuk mendapatkan semua data umat.

12.   Proses : pelaksanaan pendataan umat (maksimal 3 bulan, idealnya 1 bulan), cek/kontrol/validasi, entry data, data : presentasi dan analisa.

13.   Proses : formulir (teologi-statistik), keputusan pastor paroki, kerjasama seluruh umat (dewan paroki, ketua lingkungan dan petugas pengumpul data), pelatihan petugas pengumpul data, pelaksanaan, tim verifikasi, input data, analisa.

14.   Menyempurnakan data KK yang sudah ada, ketua lingkungan diminta menjadi petunjuk jalan bagi petugas lapangan dan memberi bantuan agar data-data bisa dikumpulkan.

15.   Gereja itu Umat Allah (LG) : umat milik Allah dihimpun dalam Roh dalam Kristus menuju keselamatan abadi, umat Allah dipanggil menjadi sakramen, kesamaatmartabat, ke kesucian.

16.   Kan 204 : kaum beriman kristiani ialah .... mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja.

17.   Lima pilar gereja : kerygma, liturgi, diakonia, koinonia, dan martyria.

18.   Beberapa landasan teoritis : demografi, sosiologi rumah tangga, teologi solidaritas, teori gereja lokal (pembagian teritorial dan kategorial), penggembalaan, persekutuan, teologi awam dan umat basis, administrasi yang lebih adaptif.

19.   Formulir per paroki. Bisa sama untuk seluruh keuskupan dengan nomor paroki yang berbeda. Basisnya adalah lingkungan. Formulir diisi per keluarga. Mari kita lihat formulirnya.  

20.   Formulir yang ada baru data dasar. Tidak ada kaitan dengan buku Jan Hendriks.

 

Rm. Gito :

Musuhnya pastoral berbasis data adalah resistensi. Seluruh bahan sebagai pengantar sudah disampaikan. Kami hanya bisa menyarankan, namun mengandaikan keberanian untuk mengambil pilihan dan kemudian konsisten dengan pilihan tersebut dengan segala resikonya. Pilihan berpastoral berbasis data bukan sesuatu yang tanpa alasan. Pastoral tidak lagi boleh berdasar asumsi, asal jalan, sesuai minat dan hobby. Bagaimana meyakinkan para pastor dan paroki-paroki ? Kita tidak bisa reaktif lagi, harus proaktif denganmengumpulkan data, mengolah, dan melakukan tindakan pastoral antisipatif. Globalisasi sudah kita alami, kita tidak ingin terkejut. Kami semakin yakin bahwa pastoral berbasis data adalah pilihan strategis untuk saat ini.

Pak Ruchiyat :

Buku Jan Hendriks sudah dibahas tahun 1990-an di Jogjakarta. Tapi sampai sekarang di Jogjakarta saja masih baru dicoba. Apakah Litbang DKP yang ditugaskan bisa melaksanakan ? Lalu paroki itu mau dilibatkan dengan cara apa ? Barangkali DKP harus mulai dulu. Misalnya 5 faktor Jan Hendriks bisa dipakai untuk menganalisa DKP Keuskupan Bandung saat ini. Virus pastoral berbasis data memang harus disebarkan terus agar gereja menjadi vital dan menarik.

Kesimpulan Umum dari Rm. Gito  :

1.       Konteks Pelayanan Pastoral : konteks perkembangan kehidupan umat yang semakin kompleks dengan permasalahan dan kebutuhan yang semakin majemuk, gereja yang semakin terbuka dan berdialog dengan berbagai pihak terutama masyarakat luas, peduli dengan masalah-masalah kemanusiaan, kemajuan ilmu-ilmu tidak terbendung lagi dan membawa dampak besar serta tantangan bagi hidup gereja modern.

2.       Tuntutan pola perubahan pelayanan kita : konsep “pastoral” mulai diperluas sehingga menjangkau cita-cita GS, ciri karismatik personal dituntut berubah ke arah sistemik kolegial/communal, “process oriented” dilengkapi dengan “goal oriented”, berjejaring, sinergis, partisipatif (khususnya kaum awam).

3.       Sifat pelayanan pastoral  : harus berubah menjadi murah hati dan profesional (baik metode maupun tata kelolanya) dan bertanggung jawab (kredibel, dapat dipercaya)

4.       Pastoral berbasis data : sebuah pilihan pendekatan/keputusan/komitmen, dibutuhkan team kerja yang solid serta sarana dan prasarana pendukung termasuk keuangan. Kita jalan atau berhenti ?

5.       Konsekuensi : pastoral berbasis data itu pilihan yang paling merepotkan terutama dalam penyediaan data (pengumpulan, pengaturan data, analisa dan kesimpulan, rekomendasi). Konsekuensi ini mungkin karena kita tidak sendirian, karena kerja tim. Yang penting adalah koordinasi dan penataan.

 

Evaluasi pertemuan komisi :

1.       P. Didiek : pastoral berbasis data itu suatu pilihan. Bapak uskup sudah memilih, dari awal muspas, dalam supervisi, dalam berbagai kesempatan. Untuk para imam bisa melancarkan dan bisa menghambat. Artinya pilihan ini sudah lama disosialisasikan. Pilihan ini sudah dijatuhkan. Realisasinya direncanakan tahun depan. Kita dibantu agar semakin mantap melangkah. Ada cara sensus dan survey. DKP punya biro litbang yang sudah mencoba mencari apa yang dibutuhkan komisi dan bermaksud melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan komisi. Tadinya mau dibuat suatu model survey yang bisa menjangkau semua. Kalau melihat gerak ini maka ada hal yang bisa diusahakan bersama yang membutuhkan waktu lebih panjang. Tanpa harus menunggu bisa saja komisi mencari data sendiri juga. Yang penting melangkah bersama. Yang sudah berjalan dengan baik agar diteruskan kata Mgr. Suharyo dan beliau akan mendukung dan ikut. Tanggal 2 Jan 2011 pukul 12.00 ada misa perpisahan dengan umat dan tanggal 5 Jan 2011 pukul 17.00 ada misa perpisahan di mana semua imam, biarawan/wati, komisi, kelompok kategorial  diundang.

2.       P.Ferry : Evaluasi komisi cuma basa basi saja. Sampai sekarang komisi belum sungguh didampingi dan dievaluasi.  Saya ragu akan kemajuan kita. Apakah kita siap dengan segala konsekuensinya ? Ada uskup saja belum ada keputusan, apalagi nanti bila tidak ada uskup. Apakah siap dengan konsekuensi misalnya mengganti ketua komisi atau pastor paroki bila tidak mampu ? Mengenai materi pembekalan, saya berharap bahwa masukan dari luar keuskupan ok ok saja, namun harus diolah dan dipandu oleh DKP Inti dan Litbangnya. Usulan komisi-komisi agar litbang menyelenggarakan penelitian sampai sekarang belum jelas apakah sudah diusahakan. Formulir yang disiapkan Rm. Purwanto untuk paroki-paroki, bagaimana dengan komisi-komisi ? Pembekalan ini seharusnya untuk paroki-paroki. Kebutuhan komisi agak berbeda. Apakah biro litbang bisa membantu ?

3.       P. Didiek : memang belum semua hal bisa diraih, tapi gerak maju sudah terasa. Soal evaluasi masih harus dicari metode yang pas.  DKP baru setahun. RAPB 2011 merupakan gerak maju. Gerak maju sudah ada dan sudah ada bukti namun belum sempurna. Tidak mudah mencari tenaga imam maupun awam untuk sungguh membantu proses ini. Jalan keluar bukan dengan mengganti karena sulit mencari pengganti. Yang ada sekarang ini saja sudah the best. Memang perlu diusahakan peningkatan kapasitas SDM. Gerak sekarang sudah luar biasa meskipun ada kekurangan. Siapa tahu tanpa uskup juga keuskupan masih bisa berlari.

4.       Susann Suryanto : kami juga membutuhkan pendampingan, mana yang sudah baik, mana yang perlu ditegur. Program 2011 sudah diajukan. Namun tidak jelas apakah program itu akan diterima dan didanai atau tidak. Kami membutuhkan kepastian apa isinya disetujui atau tidak, lalu bagaimana dananya ? Kalau ditolak, tidak ada proses pembelajaran. Kami mohon kejelasan dari awal dari DKP inti dan pengayoman agar kami bisa membuat rencana yang lebih baik. Untuk keuangan agar ada diskusi dengan komisi ybs.

5.       P.Didiek : program 2011 sudah coba dicermati dalam rumpun, sudah dijadikan satu. Memang ada beberapa catatan. Harapannya akhir bulan ini akan ditandatangani dan disetujui soal kegiatannya, namun soal dananya masih harus dibicarakan. Beberapa komisi belum menyertakan anggaran. Ada dana yang bisa dimintakan dari APP atau Depag misalnya agar tidak semua dari keuskupan. Apakah keuangan dibicarakan secara detil di awal tahun atau saat proposal diajukan ?

6.       Endar : evaluasi memang belum mendalam, hanya laporan singkat. Belum ada evaluasi sesuai tantangan pastoral dan deskripsi perutusan dan rencana program. Mengenai pastoral berbasis data memang adalah yang paling tepat dan efektif agar tidak berdasar minat. Data paroki memang sangat berarti bagi komisi. Paroki-paroki harus didorong untuk melakukan sensus. Apakah setiap komisi mencari data sendiri atau diakomodasi oleh biro litbang ? Untuk program 2011 memang formatnya beragam, ada yang sudah pasti dengan tanggal dan dananya. Tanggal diperlukan agar tidak bertumpuk. Anggaran dibutuhkan agar bisa menghitung keseluruhan kebutuhan. Anggaran harus disertai proposal untuk sampai ditentukan kelayakannya. Proposal diminta 3 minggu sebelumnya.

7.       Veda : pembekalan pastoral berbasis data kiranya juga relevan untuk komisi-komisi, bukan hanya untuk paroki-paroki. Yang penting ada wawasan komisi-komisi bahwa harus bekerja dengan data, bukan hanya dengan asumsi dan minat. Satu tahun ini biro litbang kami juga mengalami kesulitan karena sempat kebingungan mengenai makna pastoral berbasis data. Biro litbang juga merangkap DKP inti. Biro litbang akan mendapat 1 tenaga full timer. Kuesioner awal tahun dari biro litbang hanya masuk 3 komisi. Jadi kami sulit bergerak juga.  Mekanisme evaluasi belum ditemukan agar komisi bisa meningkatkan pelayanan. Evaluasi tengah tahun 2011 akan dilakukan dengan cara berbeda. Membaca laporan keuangan misalnya tidak ada evaluasi apa kaitan pengeluaran dengan manfaat dan tujuan program. Mekanisme yang terintegrasi ini belum bisa diwujudkan.

8.       P.Didiek : sempat ada ide bagaimana kalau kita mengundang ahli dari Amerika yang ahli evaluasi ?   Memang ada ilmu evaluasi yang ingin dikembangkan.  Pada pertengahan tahun depan semoga ada sistem evaluasi yang sudah lebih bisa dipakai dan efektif.

9.       Harsoyo : kita seperti Maria dan Marta. Ekaristi, doa, dan Kitab Suci juga perlu diperhatikan.

10.   Ruchiyat : dua tahun setengah ini rupanya Mgr. Pujasumarta ingin menata (mengorganisasikan) keuskupan dan menegaskan arah keuskupan, maka jangan heran bahwa banyak istilah organisasi. Semua ini baru mulai. Jangan kuatir.

11.   Benny Karyadi : teori pastoral berbasis data sangat baik. Memang dibutuhkan data statistik untuk keuskupan.  Memang ada data di Balitbang dll, namun tiap bagian mengadakan penelitian sendiri menurut kebutuhan. Bagus kita tahu data statistik umum yang sebagian bisa dipakai, namun komisi-komisi perlu melakukan penelitian sendiri.  Data untuk gerak. Gerak untuk dievaluasi lagi. Perlu ada evaluasi diri komisi-komisi dan kemudian timbul evaluasi visi misi setiap komisi yang bisa dievaluasi oleh litbang apa sudah benar.   

12.   Bobby : apakah pastor paroki dan DPP sudah mendapatkan pembekalan pastoral berbasis data karena bukankah aktor paling sulit adalah pastor paroki ?

13.   P. Didiek : akan ada pembekalan pastorparoki dan pastor pembantu dalam hal pastoral berbasis data dan akan dilaksanakan tahun 2011.

Penutup

Demikianlah beberapa catatan mengenbai pastoral berbasis data. Apakah Keuskupan Bandung sungguh siap membuat keputusan dan komitmen untuk melakukan pastoral berbasis data dengan segala konsekuensi dan resikonya termasuk dibutuhkannya tim pemandu yang kompeten, dukungan keuangan yang cukup besar, faktor keamanan karena aka nada banyak tamu VIP, dll ?

Bandung, 21 Desember 2010

Ferry SW

http://www.unio-indonesia.org/index.php?news=113

Basilika Kerahiman Ilahi di Krakow-Lagiewniki, yang sempat dikonsekrasikan oleh Beato JP II. Di Lagiewniki St. Faustina meninggal dunia.

 

Kami yang ditandai Salib -  (Parokik Santo Ignatius Cimahi)